RABU , 17 OKTOBER 2018

Terima Kasih dan Bangga Kami Untukmu Punggawa

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Kamis , 28 Juni 2018 16:22
Terima Kasih dan Bangga Kami Untukmu Punggawa

Pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) saat menggelar kampanye terbuka.

“Petarung itu tak kenal kata menyerah. Tetap tebarkan nilai kebaikan bukan hanya karena momentum politik.”

Pesan Ichsan Yasin Limpo sesaat setelah sejumlah lembaga survei merilis hasil hitung cepat Pilgub Sulsel, begitu sarat makna. Ia begitu ksatria. Tampil menyemangati tim dan relawannya.

Ichsan tak mau melihat para tim dan relawannya larut dengan kesedihan. Apalagi sampai meneteskan air mata dengan capaian ini. Baginya, untuk masa depan anak-cucu kita, jangan pernah mundur.

Hari pemungutan suara, 27 Juni 2018, Ichsan telah menunjukkan kedewasaan berpolitiknya. Tak ada provokasi keluar dari mulutnya. Senyum dan raut muka bahagia tetap terpancar. Ichsan seakan memberi pesan, bahwa setiap perjuangan tak ada istilah kalah atau sia-sia.

Satu hal yang membuat penulis terharu ketika Ichsan mengeluarkan ucapan terima kasih kepada tim, relawan dan rakyat Sulsel. Meski tak diunggulkan di hitung cepat Pilgub Sulsel, tapi Ichsan meyakini betul, bahwa kurang lebih 20% pemilih yang mendukungnya adalah koalisi rakyat yang tulus dan menaruh harapan untuk masa depan anak-cucu kita bersama.

Melalui catatan ini, izinkan penulis mengurai kembali ungkapan kebanggaan, ketulusan dan apresiasi untuk Bapak Ichsan Yasin Limpo. Bangga, karena banyak pembelajaran berharga bisa dipetik selama bersentuhan dengannya. Bangga, karena di hatinya selalu ada nawaitu untuk masa depan anak-cucu kita. Bangga, karena tak pernah lelah memberi yang terbaik untuk rakyat.

Bagi penulis yang baru satu tahun berinteraksi langsung dengannya, tentu masih tergolong sangat “belia” untuk mengurai lebih jauh tentang sepak terjang dan kepribadian mantan anggota DPRD Sulsel dua periode ini.

Tapi terlepas itu, ada pembeda yang penulis rasakan tentang Ichsan Yasin Limpo. Pembeda, karena perkataan dan perbuatannya seiring. Pembeda, karena punya konsitensi. Pembeda, karena ada ketegasan dalam bersikap. Pembeda, karena punya nyali tinggi menerobos sistem yang berbelit-belit.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Ichsan adalah tipikal pemimpin zaman now. Punya kematangan berpolitik. Terukur menjanlankan kebijakan. Pikiran dan ide-idenya selalu jauh kedepan. Bukan asal-asalan, atau sekadar mencari sensasi sesaat untuk pencitraan.

Jangan pernah beranggapan jika Ichsan adalah tipikal pemimpin yang piawai berjanji, tapi gampang melupakan. Sebab jika itu ada di pikiran, maka percaya saja Anda akan ‘tersipu malu’ dan “kacele” dengan sendirinya.

Siapapun yang pernah dan lama berinteraksi dengan Ichsan, pasti sangat tahu bagaimana dia memegang sebuah komitmen. Pantang baginya menarik ucapan, atau mengkhianati janji yang keluar dari mulutnya. Sekalipun itu dalam posisi sulit atau tersudut.

Bukan Ichsan Yasin Limpo namanya kalau lari dari komitmen. Bukan Ichsan Yasin Limpo panggilannya kalau plin-plan bersikap. Bukan Punggawa julukannya, kalau menjauh dari tanggung jawab. Bukan juga “Mister Komitmen” kalau menjadi “boneka” dari pihak tertentu.

Setidaknya ini yang penulis ikut rasakan selama menjadi “paggene-genne” dibarisan pemenangannya selama kurang lebih satu tahun terakhir. Arti sebuah komitmen, konsistensi, ketegasan, serta kemampuan begitu sangat dipegang erat-erat.

Kebanggaan tersendiri bisa mengenalnya, karena terobosan-terobosannya kadang di luar nalar dan prediksi kita. Di saat kita berpikiran jangka pendek, Ichsan justru jauh berpikiran jangka panjang. Dan itu penuh perhitungan, kematangan, serta sangat terukur.

Jangan pernah menilai setiap gagasan dan idenya yang dikeluarkan hanya sekadar untuk menarik simpati belaka. Sebab, di benaknya tak ada istilah main-main untuk kepentingan rakyat banyak. Ia tak alergi dicibir di awal. Ia tak takut terus menjadi “bulan-bulanan” kritikan. Asalkan di akhir, rakyat bisa menikmati sesungguhnya makna dari ide dan gagasannya itu.

Bercermin dari kepemimpinannya di Gowa selama 10 tahun, Ichsan memang tak sehebat beberapa kepala daerah yang piawai mengumbar pencitraan di media, tapi didalamnya sangat keropos. Ichsan jauh tertinggal untuk urusan meletakkan batu pertama, namun tak ada realisasi. Karena sekali lagi, doktor bidang hukum pendidikan ini, memang lebih mengutamakan fakta ketimbang janji atau pencitraan.

Lewat kepemimpinan Ichsan, Gowa kini jauh lebih merdeka. Merdeka, karena tak ada lagi istilah pungutan satu rupiah pun ke orang tua siswa. Merdeka, karena kaya dan miskin semua bisa menikmati pendidikan yang benar-benar gratis.

Merdeka, karena rakyatnya juga benar-benar menikmati kesehatan gratis. Merdeka, karena rakyatnya merasa terlindungi. Tak ada kecemasan tanah dan haknya dirampas oleh konglomerat. Sebab siapapun itu yang ingin membeli tanah di wilayah Gowa, harus memiliki KTP Gowa. Bukan surat keterangan sementara.

Berkat kepemimpinan Ichsan pula, mini market yang menjamur di daerah lain, tetap bisa terkontrol di Gowa. Ada pembatasan di setiap kelurahan. Dan itu dilakukan, agar roda usaha menengah ke bawah yang dijalankan rakyat, tetap bisa berjalan dan bersaing.

Pembeda lainnya yang dimiliki IYL, tentu saja soal komitmennya menjalankan pemerintahan bersih atau bebas dari penyalahgunaan. Selama 10 tahun memimpin Gowa, ia berhasil membawa kabupaten yang wilayahnya sekitar lima kali lipat luasnya dibanding Bantaeng ini, mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) lima kali berturut-turut. Dan ini satu-satunya kabupaten di Sulsel.

Bukan hanya itu saja, berkat kegigihan memimpin dan melayani rakyat, Ichsan pernah membawa Gowa sebagai kabupaten pemerintahan terbaik kedua se-Indonesia. Dan lagi-lagi ini pertama untuk kabupaten di Sulsel.

Keberpihakan lainnya ke rakyat adalah penegasan ke siapapun investor yang menanamkan modal atau investasinya di Gowa. Syarat wajibnya, tenaga kerja atau karyawan yang direkrut harus memprioritaskan putra-putri daerah. Begitu juga untuk sektor lain yang di catatan ini tak sempat diurai.

Pembeda lainnya yang penulis rasakan, adalah kedisiplinan Ichsan. Bukan hanya “Mister Komitmen” yang layak untuk disandangnya. Tapi julukan “Mister On Time” patut juga disematkan. Ia bukan tipikal pejabat pengguna “jam karet”.

Berulangkali penulis dibuat terkagum hingga “tertinggal” dengan aksi “Mister On Time”. Jika ada undangan atau kegiatan yang ingin dihadirinya, jangan tunggu bergerak setelah jadwal yang ditentukan. Sebab kebanyakan ia memilih bergegas atau datang lebih awal.

 

Melalui catatan ini, izinkan penulis menyampaikan beribu terima kasih atas berbagai pembelajaran berharga selama ini. Doa kami selalu teriring, semoga selalu diberi kesehatan melimpah.

Terima kasih, dan bangga kami untukmu Punggawa!

Makassar, 28 Juni 2018

Arif Saleh


div>