RABU , 21 NOVEMBER 2018

Ternyata Masih! Jaringan Narkoba Diatur dari Dalam Lapas, Nih Buktinya

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Jumat , 28 April 2017 10:45
Ternyata Masih! Jaringan Narkoba Diatur dari Dalam Lapas, Nih Buktinya

int

 MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM -Lapas ternyata masih menjadi tempat yang nyaman bagi para bandar untuk mengatur peredaran narkotika.  Ini diketahui setelah anggota Subdit III Direktorat Reserse Narkoba Polda Jambi, meringkus dua pelaku penyalahgunaan narkotika. Barang bukti narkoba senilai ratusan juta rupiah disita.

Kedua pelaku yang merupakan kurir ini dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Jambi. Kasubdit III Ditresnarkoba Polda Jambi, AKBP Agus Suryono melalui Kanit I, Kompol Eko Santoso, menyebutkan, dua tersangka ditangkap, Minggu (23/4) di rumah makan Bundo Kanduang, Merlung, Kabupaten Tanjab Barat.

“Barang bukti ada 4 Ons, nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Ini dibawa dari Aceh,” ujarnya seperti ditulis Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Jumat (28/4).

Kedua tersangka, yakni Saiful Bahri bin Bahani (37) warga Desa Panton Masjid, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh dan Anda Hendra (29) warga Merlung, Kabupaten Tanjab Barat.

Eko menjelaskan, jaringan ini dikendalikan oleh oknum Narapidana yang berada di Lapas Jambi. Modusnya, barang haram tersebut dipesan dari Aceh kepada seorang bandar.

Selanjutnya, diantarkan oleh kurir menggunakan jasa angkutan umum. “Sabu ini tidak diedarkan di dalam Lapas, tapi akan diedarkan di Merlung. Hanya pengendali di Lapas. Kita masih selidiki ini,” jelas Eko. [NEXT-RASUL]

Penangkapan ini berdasarkan informasi bahwa akan ada transaksi narkoba. Kemudian dilakukan penyelidikan. Seseorang dicurigai tengah menunggu jemputan di TKP. Setelah seseorang datang langsung dilakukan penangkapan. “Kita geledah, kita temukan barang bukti sabu yang disimpan di dalam tas,” bebernya.

Sementara itu, kepada wartawan Saiful Bahri menyebutkan, dirinya mengantarkan sabu ke Jambi sesuai perintah dari bandar yang dikenalnya dengan nama Cik Kia. “Disuruh bawa ke Jambi. Upahnya Rp2 juta,” sebutnya.

Saat ditanya mengapa melakukan hal ini, pria yang kesehariannya sebagai petani ini mengaku terdesak kebutuhan ekonomi. “Biaya untuk kebutuhan sehari-hari aja. Ada ditabung untuk lebaran Idul Fitri jugo,” tandasnya.


div>