SABTU , 15 DESEMBER 2018

Ternyata, Sekolah Rakyat Dirintis Oleh Orang-orang PKI

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Rabu , 30 September 2015 00:01
Ternyata, Sekolah Rakyat Dirintis Oleh Orang-orang PKI

Murid dan guru Sekolah Rakyat Padang Panjang berpose di depan sekolah mereka pada 1925. Foto koleksi Leon Salim ini termuat di halaman 14 buku Prisoners at Kota Cane, karya Leon Salim. (jpnn)

RAKYATSULSEL.COM – PKI bukan saja partai politik pertama yang menggunakan nama Indonesia. Partai ini pula yang pertama memberontak terhadap Belanda dengan tuntutan Indonesia merdeka. Dan ternyata, orang-orang PKI pula yang merintis Sekolah Rakyat (SR).

***

Semaoen berkenalan dengan Tan Malaka saat kongres Sarekat Islam (SI) V di Yogyakarta, 2 hingga 6 Maret (versi Semaoen 1921 dan versi Lembaga Sejarah PKI 1920. Keduanya menggunakan tanggal yang sama. Hanya beda tahun).

“Di luar sidang seorang pemuda diperkenalkan dengan saya. Tan Malaka, ijazah guru dari perguruan tinggi Nederland. Wah, kebetulan sekali, pikirku,” kenang Semaoen.

“Bercakap-cakap sedikit, saya mendapat tahu bahwa beliau berpikir secara sosialis komunis. Untung bagi gerakan rakyat revolusioner, pikirku pula,” lanjutnya.

Ketua SI cabang Semarang yang rangkap menjabat Ketua PKI itu langsung mengajak Tan Malaka ikut bersamanya. (Baca juga: Begini Cerita Awal Mula Nama PKI)

“Besok marilah bersama ke Semarang. Bung, rakyat menunggu putranya yang intelektual. Untuk sama-sama bergerak. Guna mencapai susunan masyarakat baru, merdeka, makmur, sama rata, sama rasa,” ajak Semaoen. Tan tidak menolak.

Sejurus kemudian… “Sekolah sudah jadi, Bung. Murid-murid cukup banyaknya,” kata Semaoen.

[NEXT-RASUL]

“Program pelajaran sudah saya selesaikan, Bung Maoen, lihatlah,” jawab Tan.

Dialog di atas ditulis Semaoen, 12 November 1957. Dan dimuat sebagai pengantar buku PKI Sibar Contra Tan Malaka yang ditulis Sudijono Djojoprayitno, terbit April 1962.

SI School
21 Juni 1921 sekolah yang didirikan Tan dan Semaoen resmi dibuka. Menempati gedung pertemuan SI Semarang, sekolah itu bernama SI School. Murid angkatan pertama berjumlah 50 orang.

Bermula di Semarang, SI School segera meluas. Bermula di sekitar Jawa Tengah, terus meluas ke Jawa Barat, dan seterusnya.

Akhir September 1921 berdiri SI School di Kendal dan Kaliwungu. Awal November 1921 berdiri pula SI School cabang Salatiga, muridnya 75 orang. Dan Januari 1922 SI School cabang Bandung lahir, murid pertamanya seratusan orang.

[NEXT-RASUL]

Kabar keberadaan SI School berhembus kemana-mana. Dalam rapat-rapat SI dan PKI, propaganda tentang sekolah itu terus menerus menjadi buah bibir.

Tan Malaka pun kemudian menyiapkan buku panduan untuk materi ajar sekolah ini. “Dengan buku itu, kita bisa pula merangkum haluan SI School di mana-mana juga pada tempat yang sudah setuju dengan Semarang,” tulis Tan Malaka dalam Sarekat Islam Semarang & Onderwijs.

Kurikulum belajar di SI School, sebagaimana disebutkan Tan Malaka, “bertujuan untuk memberi senjata cukup buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan; berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu dan dsb.”

Tak semata-mata berkejar-kejaran dengan mata pelajaran, SI School juga “memberi haknya murid, yakni kesukaan hidup dengan jalan pergaulan (vereiniging),” ungkap Tan.

Terkait ini Tan Malaka menjelaskan, “pula kita tidak lupa pula bahwa ia masih kanak-kanak dalam usia mana ia belum boleh merasa sengsaranya hidup dan berhak atas kesukaan bergaul atas kanak-kanak.”

Dan yang tak kalah penting, ideologi yang ditanamkan di sekolah ini. Yakni, “menunjukkan kewajiban kelak terhadap berjuta-juta kromo (rakyat kecil).”

Masih dalam artikel yang sama, di bagian penghabisan Tan menjelaskan, “di sekolah diceritakan nasibnya kaum melarat di Hindia (Indonesia kini–red) dan dunia lain dan juga sebab-sebab yang mendatangkan kemelaratan itu.”

[NEXT-RASUL]

Selain dari pada itu, lanjut Tan, kita membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina itu dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan kewajibannya kelak, kalau ia baligh, ialah akan membela berjuta-juta kaum proletar.

Sekolah Rakyat
Dalam perkembangannya, seiring perpecahan di tubuh Sarekat Islam (SI), karena para pentolan SI School ada di kubu SI Merah-PKI yang kemudian berganti nama jadi Sarekat Rakyat, maka nama sekolah itu ikut berganti pula menjadi Sekolah Rakyat.

Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan Ke Integrasi mengisahkan, pada 1924 kader-kader PKI Sumatera Barat yang berbasis di Sumatera Thawalib mendirikan Sekolah Rakyat di Padang Panjang. Kurikulumnya, “mengikuti pola sekolah yang didirikan Tan Malaka di Semarang,” tulis Kahin.

Dan, di Sekolah Rakyat (SR) Padang Panjang inilah Sarekat Rakyat dan Barisan Muda, organisasi kepemudaan PKI Sumatera Barat bermarkas.

Leon Salim, pelajar SR Padang Panjang masih ingat, saban akhir pekan dia bersama kawan-kawannya bertandang ke sekolah-sekolah lain membawa serta surat kabar yang diterbitkan PKI Padang Panjang, Djago-Djago! dan Pemandangan Islam. (Wenri Wanhar/wow/jpnn)

 

 


div>