MINGGU , 27 MEI 2018

Ternyata Tak Ada Perekrutan Calon Operator Smelter, NA Mau Bohong Lagi?

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 14 Mei 2018 16:05
Ternyata Tak Ada Perekrutan Calon Operator Smelter, NA Mau Bohong Lagi?

Nurdin Abdullah

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Nurdin Abdullah boleh saja “leluasa” menghindar tidak bohong soal gagalnya melaunching ekspor perdana nikel 5 Mei seperti yang dijanjikan. Tapi fakta sesungguhnya, ternyata Smelter memang belum siap untuk beroperasi.

PT Huadi Nickel Alloy Indonesia yang menjalankan smelter tersebut, bahkan membantah mengenai adanya perekrutan untuk posisi operator smelter, seperti yang infonya marak disebar di sosial media.

“Memang kami buka lowongan kerja, tapi bukan untuk posisi operator smelter. Itu pun juga kalau operator smelter tidak serta merta diterima, karena harus dilatih dulu,” kata salah satu pimpinan PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, Lilly, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (14/5/2018).

Soal kesiapan, pihaknya terus berusaha. Tapi tidak bisa asal-asalan atau dipaksakan. Semua harus ready dan siap terlebih dahulu. Termasuk soal jaringan listrik.

Meski demikian, perusahaan ini menaruh harapan besar agar tidak dikait-kaitkan dengan politik. Sebab siapapun yang terpilih, pihaknya memberi support.

“Tolong jangan kami diseret-seret ke politik. Siapapun terpilih, itulah pemimpin kita semua,” pinta Lilly mewakili perusahaannya.

Nurdin Abdullah memang terus menggembor-gemborkan tentang smelter di Bantaeng. Bukannya memberi kesempatan kepada perusahaan untuk menjelaskan perkembangannya, NA justru percaya diri mengundang Kandidat lain untuk menghadiri launching perdana nikel 5 Mei.

Parahnya itu disampaikan saat debat kandidat pertama, serta mempertegas di debat kedua. Hanya saja saat tidak terealisasi seperti waktu yang disampaikan, NA justru terkesan “menghindar”.

Jika di awal, NA yang pamer mengundang, maka saat klarifikasi batalnya ekspor perdana 5 Mei, justru dilakukan pihak perusahaan swasta. Padahal seharusnya, NA yang bertanggungjawab sendiri, karena dia berani mengundang di debat publik.

Setelah jadi “bulan-bulanan”, NA dengan percaya dirinya menyebut kalau itu bukan kebohongan. Melainkan penundaan saja. Anehnya lagi, seolah ingin memanfaatkan situasi ini kalau kubunya di black campaign.

Ia terkesan berusaha menutupi kegagalannya dengan menyebut jika dirinya di fitnah. Padahal kenyataannya, NA sendiri yang perkataannya, lain di mulut lain di perbuatan, alias Bohong. (*)


div>