RABU , 19 DESEMBER 2018

The Power Of Sosmed

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Sabtu , 20 Mei 2017 12:00
The Power Of Sosmed

Haidar Majid

Teman saya pernah bilang, “sekarang ini eranya colokan, jaringan dan pulsa”. Penasaran, saya bertanya, “maksudnya bagaimana?”. Dijawabnya, “pokoknya, segala sesuatunya cukup ada colokan, dapat jaringan dan gadget berisi pulsa, maka urusan hidup bisa kelar”. Mendengar itu saya agak lama terperangah.

Bayangkan kata teman saya, dulu kalau  butuh sesuatu, kita harus ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau ke warung-warung. Tetapi hari ini, dengan colokan untuk mengisi baterai, ada pulsa dan jaringan agar bisa mengakses kemana-mana, maka kita tak perlu kemana-mana lagi untuk bisa memperoleh apa yang kita ingin. Cukup klik selesai.

Pun juga jika ingin bertemu atau berbicara panjang lebar dengan seseorang, apakah itu kerabat atau keluarga nun jauh disana, tak perlu lagi harus berkunjung yang butuh waktu dan biaya. Cukup klik, suara dan sosoknya bisa segera terdengar dan tampak di gadget atau smartphone. Sangat efektif, sangat efisien dengan biaya yang tak lagi bikin dahi berkerut.

“Ini era media sosial”, katanya lagi. Selain memudahkan hidup, era ini bisa juga menceritakan apa saja tentang diri kita. Ketika hati senang, maka buatlah status atau unggahlah foto atau video yang menunjukkan atau menggambarkan betapa bahagianya kita. Dan ketika sedang marah atau sedang tak enak hati, maka buatlah status atau unggahlah foto atau video yang bisa mewakili perasaan itu.

Begitu pula ketika kita senang atau suka pada seseorang, media sosial bisa menjembatani “rasa” itu agar bisa sampai, tanpa harus sungkan atau malu. Toh yang bersangkutan tak melihat kita saat menyampaikannya. Sebaliknya, kalau kita tidak senang atau tidak suka pada seseorang, media sosial bisa menjadi “sarang” untuk melampiaskan rasa marah dan benci pada orang itu. Alasannya sama, toh kita tidak sedang berhadapan dengan orangnya, jadi apa saja bisa dikatakan.

Media sosial yang tak berjarak dan lebih banyak tak saling bertatap, membuat media ini sering digunakan ‘secara apa saja’. Orang ‘mau’ berkata dan menulis apa saja. Orang ‘mau’ mengunggah foto atau video apa saja, termasuk hal-hal yang sangat privat. Semua bisa dilakukan dan luput mempertimbangkan efek atau dampak “rasa” yang ditimbulkan oleh kata dan unggahan itu.

Efek yang dimaksud bisa bermasalah bagi diri sendiri, juga bermasalah bagi orang lain. Misalnya mengumbar foto atau video yang bersifat pribadi, tentu akan berimplikasi pada “rasa malu”, setelah “sadar” bahwa hal itu sebenarnya “tidak pantas”. Demikian juga bila hal tersebut dilakukan dengan ‘meminjam’ gambar atau video orang lain yang sangat bersifat pribadi, tentu ini lebih fatal lagi, karena bisa berakibat ketersinggungan atau malah bermasalah secara hukum.

Ada lagi yang lebih fatal dan ini sedang ‘menggejala’, yakni menyebar “kebencian” kepada seseorang atau se kelompok orang. Oleh pelakunya, cara ini dianggap ‘ampuh’ untuk mendegradasi kredibitas atau eksistensi orang. Oleh pelakunya disebarkan kalimat-kalimat yang bernada permusuhan, provokasi, bahkan fitnah.

Pelakunya sering sekali merasa diri paling benar dan semua orang salah, merasa diri paling baik dan orang lain buruk. Pelakunya juga berprinsip apapun bisa dilakukan untuk mencapai tujuan, bahkan dengan mencelakakan orang sekalipun, tak peduli bahwa ‘celaka’ yang diciptakan bisa berujung “petaka”.

Padahal, seperti kata teman saya, bahwa media sosial  harusnya bisa membuat hidup seseorang jadi “mudah”, bukan untuk menyusahkan diri. Media sosial seyogyanya dimanfaatkan untuk menebarkan kebajikan, bukan kemudharatan. Kalau media sosial digunakan banyak untuk hal-hal mudharat, sebaiknya jauhkan diri dari colokan, hindari jaringan dan jangan beli pulsa. (*)


div>