RABU , 21 NOVEMBER 2018

Tiga Daerah Berpotensi Lawan “Kotak Kosong”

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 10 Agustus 2017 09:45
Tiga Daerah Berpotensi Lawan “Kotak Kosong”

Ilustrasi. Dok. RakyatSulsel

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar 27 Juni tahun 2018 mendatang. Khusus di Sulsel, ada 12 kabupaten/kota yang akan melaksanakan perhelatan demokrasi lima tahunan tersebut.

Dari 12 daerah itu, ada tiga daerah yang terancam sepi atau berpotensi besar melawan “kotak kosong” atau hanya diikuti calon tunggal. Selain karena faktor petahana, fenomena melawan kotak kosong dibuktikan dengan melakukan pendaftaran hampir di semua partai politik.

Tiga Daerah tersebut yakni, Kota Parepare, Kabupaten Bone dan Kabupaten Sidrap. Dua diantaranya akan diikuti calon kepala daerah petahana. Andi Fashar Padjalangi yang kembali akan berpaket dengan Ambo Dalle di Pilkada Bone, sedangkan petahana Taufan Pawe di Pilwalkot Parepare.

Bagaimana dengan Sidrap?. Meski bukan petahana, namun nama Fatmawati Rusdi juga diprediksi bakal melawan kotak kosong. Selain sebagai Anggota DPR RI, Fatmawati adalah istri Bupati Sidrap dua periode Rusdi Masse yang tak lain Ketua DPW NasDem Sulsel.

Saat dikonfirmasi, Fashar Padjalangi tidak menampik hal tersebut (akan melawan kotak kosong). Menurutnya, hal itu tidak bertentangan dengan demokrasi. “Kita lihat kondisi mana yang menguntungkan, kalaupun partai berhendak begitu, kita ikut saja. Lagian kotak kosong tidak menyalahi demokrasi kita,” ucapnya, Rabu (9/8).

Ketua Golkar Bone tersebut tersebut mengaku sudah mendaftar di semua partai politik untuk dijadikan¬† sebagai kendaraan di Pilkada Bone 2018 mendatang. “Keseriusan ini kami buktikan dengan mendaftar di semua partai peserta Pilkada Bone,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Partai tersebut antara lain PAN, Gerindra, PBB, PKS, NasDem, PDIP, Hanura, PKB dan Demokrat. Fashar juga mengaku telah menyiapkan sejumlah program yang akan menjadikan Bone maju dan berkembang.

“Apa yang akan kami laksanakan kedepan tak terlepas dari visi misi kami sekarang menjadikan Kabupaten Bone maju, berkembang, sehat, cerdas dan sejahtera,” tuturnya.

Andi Fashar Padjalangi yang berpasangan dengan Ambo Dalle sebelumnya telah mengantongi rekomendasi dari Partai Golkar.

Sementara Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Sidrap, Syamsu Marlin mengaku telah memberikan rekomendasi kepada Fatmawati Rusdi. Bahkan kata dia, hampir seluruh partai sudah merapat ke Anggaota DPR RI tersebut.

“Melihat kondisi saat ini, besar kemungkinan ibu Fatmawati akan melawan kotak kosong, karena sejumlah partai lain sudah merapat, kecuali Gerindra,” katanya.

Ia menyebutkan, meski Gerindra tidak memberikan usungan kepada Fatmawati, legislator senayan tersebut tetap bisa melawan kotak kosong. Alasannya partai besutan Prabowo Subianto itu hanya memiliki empat kursi di parlemen. Sementara persyaratan untuk mengusung calon harus memiliki tujuh kursi di parlemen.

[NEXT-RASUL]

“Gerindra belum pasti, kalau hanya Gerindra tidak mendukung ibu Fatma kita masih bisa melawan kotak kosong, karena kursinya hanya empat dan untuk mengusung calon harus tujuh,” ucapnya.

Sebagai partai pengusung, kata dia, pihaknya telah mengantisipasi kekalahan jika kelak Fatmawati benar-benar melawan kota kosong dengan mengarahkan seluruh sayap partai untuk tetap melalukan sosialisasi.

“Kita tatap mengantisipasi itu terjadi (kekalahan melawan kotak kosong) dengan mengerahkan seluruh relawan untuk terus melakukan sosialisasi, karena kita tidak ingin terlena pada saat melawan kotak kosong,” tegasnya.

Ketua PAN Sidrap, Andi Ikhsan Hamid mengaku belum ingin menegaskan apakah Fatmawati Rusdi akan melawan kotak kosong atau tidak. Namun menurutnya, seluruh partai politik mulai cenderung mendukung Fatmawati Rusdi.

“Saya tidak berani mengatakan melawan kotak kosong, tapi saya lihat kemungkinan itu terjadi, karena partai politik rata-rata cenderung ke ibu Fatmawati,”¬† tuturnya.

Menanggapi hal itu, Konsultan Politil Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy menuturkan, fenomena kotak kosong di pilkada serentak 2018 bisa saja kembali terjadi. Apalagi dari dua kali pelaksanaan pilkada serentak sebelumnya memang mengalami peningkatan. “Adanya regulasi yang mengatur calon tunggal dalam Pilkada membuka ruang itu terjadi,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Nursandy menuturkan, daerah di Sulsel seperti Kabupaten Bone dan Kabupaten Sidrap punya potensi diikuti calon tunggal. jika mengacu pada upaya petahana di Bone dan Hj Fatmawati merangkul hampir semua parpol. Keduanya punya kemampuan melakukan itu, apalagi kalau rival politiknya tak mampu mengimbangi.

“Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan Pilkada diikuti oleh calon tunggal. Pertama, tidak adanya calon penantang kuat yang mampu meyakinkan parpol atau menyiapkan sekoci dijalur independen,” terangnya.

Lebih lanjut, kata dia, faktor berikutnya yakni figur yang memiliki sumber daya yang kuat punya kuasa untuk memborong parpol. Dimana, ini juga bagian dari strategi untuk meraih kemenangan dengan mudah.

“Terakhir, perilaku partai politik hari ini cenderung pragmatis dan transaksional sehingga menjadi cela bagi kandidat potensial utamanya punya finansial kuat untuk merangkul parpol. Di sisi lain parpol tidak menyiapkan kader-kadernya untuk menjadi pemimpin alternatif di daerah,” bebernya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar Arief Wicaksono menuturkan, apabila skenario kotak kosong benar terjadi dan betul-betul berjalan, berarti, jangankan demokrasi substansial, pada ranah demokrasi prosedural pun akan mengalami hambatan kemajuan.

“Harusnya tidak ada itu skenario kotak kosong, ataupun fenomena memborong parpol. Mengapa? Itu karena beberapa hal,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Arief menjelaskan, saat ini ada kecenderungan petahana atau incumbent kalah. Bukan hanya di Sulsel, tapi di beberapa tempat di Indonesia, kekalahan incumbent telah menjadi fenomena baru.

“Skenario itu mematikan potensi kepemimpinan masa depan di daerah tersebut. Kalau obyektif, mengapa harus ada skenario kotak kosong, justru ketika incumbent berada diatas angin?. Idealnya incumbent tetap mempertahankan keterpilihannya, tanpa harus menciptakan skenario seperti itu,” jelas Arief.

Arief menjelaskan, kekalahan incumbent melawan kotak kosong, akan berimplikasi pada banyak hal, antara lain borosnya penyelenggaraan pemilu, karena pasti akan diulang kalau kotak kosong yang menang. (E)


Tag
  • pilkada 2018
  •  
    div>