SELASA , 22 MEI 2018

Tiga Proyek Bendungan Sulsel Terus Digenjot

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 23 Desember 2017 11:30
Tiga Proyek Bendungan Sulsel Terus Digenjot

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Jufri Rahman. ist

* Dua Diantaranya Rampung Akhir Tahun

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Tiga bendungan besar di Sulsel terus digenjot pengerjaannya. Tiga bendungan itu antara lain Passeloreng di Kabupaten Wajo, Baliase di Kabupaten Luwu Utara serta Bendungan Karelloe di Kabupaten Jeneponto.

Ketiga bendungan tersebut pembangunannya telah mencapai hampir 80 persen. Bahkan, satu diantaranya proses pembebasan lahannya akan rampung pada akhir tahun.

Terkait hal itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Jufri Rahman mengatakan tahun ini pihaknya optimis bisa menggenjot pengerjaan fisiknya agar segera rampung.

“Ada dua proyek yang cukup bagus dan sudah mendekati 100 persen yakni bendungan Passeloreng di Wajo dan Bendungan Baliase di Luwu Utara sudah di atas 70 persen. Tahun ini ditargetkan fisiknya bisa terealisasi 100 persen,” kata Jufri, Jumat (22/12).

Ia berharap agar realisasi fisik dapat tercapai hingga akhir tahun, pihaknya optimis bahwa Satuan Kerja (Satker) dapat mencapai 100 persen selama 2017.

“Bendungan ini sangat penting untuk menunjang Sulsel sebagai lumbung pangan nasional. Untuk irigasi pertanian dan sebagainya,” katanya.

Selain itu, Jufri juga mengatakan proyek Bendungan Pamukkulu yang juga sudah mulai memasuki tahapan pengerjaan fisik. Menurutnya, pembangunan sejumlah bendungan ini masuk ke dalam 13 proyek infrastruktur prioritas yang akan dipacu tahun depan.

“Ada 2 proyek jalan metropolitan. Stadion Barombong, empat proyek bendungan, revitalisasi Danau Tempe, kereta api dan Bandara Buntu Kunik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Iskandar mengatakan bendungan yang berlokasi di Desa Kalikokmara, Kecamatan Polongbangkeng Utara ini akan memiliki daya tampung hingga 82,7 juta meter kubik air. “Pammukkulu ini akan menjadi waduk terbesar ketiga di Sulsel setelah Bili-bili dan Passeloreng,” kata Iskandar.

Ia menambahkan, bendungan ini akan mengairi irigasi seluas 6.430 hektare. Selain itu, kata dia, juga bisa memberikan daya PLTA 25 MW, mengendalikan banjir 430 meter kubik per detik, dan menyediakan air baku.

Menurutnya, sebagai penyedia jasa pekerjaan Bendungan Pammukkulu dibagi dua kegiatan. Paket pertama akan dikerjakan PT Wijaya Karya dengan nilai kontrak Rp 852 miliar lebih, dan paket dua dikerjakan PT Nindya Karya dengan kontrak Rp 842 miliar lebih.

“Sementara, supervisi nilai kontraknya Rp53 miliar,” ungkapnya.

Iskandar menambahkan, pengerjaan Bendungan Pammukkulu dilakukan setelah mendapat persetujuan multiyears dari Kementrian Keuangan pada Oktober lalu. Totalnya mencapai Rp 1,7 triliun. “Tanah yang harus dibebaskan untuk pengerjaan bendungan ini sekitar 640 hektare,” pungkasnya. (*)


div>