SELASA , 18 DESEMBER 2018

Tim Hukum Sumanga’NA Nilai Polres Bantaeng Lamban Tangani Hate Speech

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Selasa , 15 Mei 2018 14:00
Tim Hukum Sumanga’NA Nilai Polres Bantaeng Lamban Tangani Hate Speech

Tim Hukum Andi Ugi, Nur Fajri.

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Sampai sekarang laporan kasus pencemaran nama baik lewat sosial media yang menyerang Andi Sugiarti Mangun Karim (Andi Ugi) hingga saat ini belum juga menunjukkan perkembangan.

Sehingga Tim Hukum Andi Ugi, Nur Fajri menganggap kinerja dari Polres Bantaeng terkesan lamban dalam mengungkap pemilik akun Facebook yang melakukan pencemaran nama baik tersebut.

“Sampai hari ini belum ada perkembangan yang signifikan dari hasil penyelidikan Polres Bantaeng. Sehingga kesannya sangat lambat dalam menangani perkara,” ungkapnya, Senin (14/5).

Padahal menurutnya, penyidik sudah mengantongi nama asli pemilik dari akun palsu yang melakukan pencemaran nama baik Andi Sugiarti.

Bahkan pada tanggal 8 Mei 2018, beberapa penyidik Tipidter Polres Bantaeng yang dipimpin oleh Haerul Ihsan mendatangi langsung Rumah kediaman Calon Bupati Andi Sugiarti Mangun Karim.

“Kedatangannya untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) terkait pencemaran nama baik melalaui media sosial,” tambahnya.

Dalam SP2HP yang disampaikan pihak Polres Bantaeng prosesnya masih dalam tahap hasil pemeriksaan oleh ahli bahasa terkait kata-kata dalam konten yang di posting oleh pelaku (pemilik akun palsu).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bantaeng, Iptu Asian Sihombing mengatakan pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut. Bahkan telah melakukan koordinasi secara menyeluruh, baik ke Polda Sulsel hingga ke mabes polri terkait masalah itu.

“Kami sudah membangun koordinasi secara menyeluruh terkait hal ini, serta melakukan upaya pengungkapan baik teknologi maupun secara manual. Apalagi kita tidak bisa berandai-andai tetapi harus memfaktakan siapa pemilik akun itu,” ujarnya.

Apalagi untuk membuktikan hal itu sebagai ujaran kebencian, pihaknya mengaku perlu ahli bahasa, termasuk ahli IT yang membuktikan bahwa orang itulah pemilik akunnya.

“Sehingga jika berbicara jangka waktu tentu kami tidak mampu untuk memastikan, yang pasti upaya kami terus dilakukan, bahkan kami bolak balik Makassar-Bantaeng, sebab proses ini tidak semudah dengan menangani kasus lainnya,” jelasnya. (*)


div>