SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Tim Pemenangan Berpotensi Jadi Agen Hoax

Reporter:

Iskanto

Editor:

Ridwan Lallo

Rabu , 21 Maret 2018 16:36
Tim Pemenangan Berpotensi Jadi Agen Hoax

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM -Momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ino, masyarakat diharapkan waspada terhadap produksi hoax yang digunakan sebagai alat politik.

Hal itu terungkap pada diskusi publik yang digelar Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (IMIKI) Cabang Makassar bersama BEM STIE Wira Bhakti dengan tema “Pilkada Damai Tanpa Konflik SARA dan Hoax di Sulawesi Selatan”, di Warkop Press Corner, Selasa (20/3).

Hadir sebagai pembicara, Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) yang juga pakar pendidikan politik, Dr Yasdin Yasir SPd MPd, Ketua STIE Wira Bhakti Makassar, Dr Abdul Rahman SE MSi dan Ketua KNPI Sulsel, Imran Eka Saputra.

Imran Eka Saputra bahkan mencurigai jika tim pemenangan di momen Pilkada ini, juga dibebankan tugas untuk memproduksi hoax. Imran berkaca pada fakta Pilkada DKI Jakarta yang lalu.

Di mana, kata dia, telah ditemukan oleh aparat kepolisian tiap satu orang memainkan banyak akun untuk digunakan sebagai alat penyebaran hoax demi memenangkan pertarungan Pilgub DKI. Imran berharap, tim pemenangan yang terlibat di Pilkada Sulsel tidak melakukan hal serupa.

“Tim sukses memproduksi hoax itu dibayar. Itu sudah banyak diungkap jaringannya. Kalau pilkada ada tim seperti itu ada faktanya. Tapi mudah-mudahan tidak ada di Sulsel,” kata dia.

Lanjut Imran, di momen Pilkada ini selalu banyak orang jahil memainkan isu kebencian. Dan, isu kebencian berbau SARA ini justru tumbuh di masyarakat melalui konsumsi hoax di media sosial. Jika masyarakat tidak memiliki basis nilai yang jelas, maka rentan termakan isu SARA yang tersebar melalui hoax.

“Yang seperti ini kan sudah banyak ditindaki aparat. Hari ini era kebangkitan teknologi. Dibutuhkan pisau analisis untuk pembaca. Kalau tidak memiliki analisa pada informasi bisa berujung konflik,” tuturnya.

Sementara itu Pakar Politik Pendidikan, Yasdin Yasir mengatakan, hoax selalu tumbuh akibat masyarakat yang senang aktualisasi diri. Dan, celakanya, masih banyak juga yang termakan isu hoax, dan turut membangikannya.

Yasir menilai jika masyarakat hari ini kehilangan nalar kritisnya sehingga gampang terhasut hoax dn isu SARA. “Solusi untuk meminimalisir penerimaan hoax di masyarakat adalah perkuat literasi teknologi, literasi digital dan literasi manusia,” terangnya. (*)


div>