RABU , 14 NOVEMBER 2018

Tim Wija Peduli, dan Kisah Pilu Korban Gempa Serta Tsunami Sulteng

Reporter:

Atho Tola

Editor:

Iskanto

Jumat , 19 Oktober 2018 10:20
Tim Wija Peduli, dan Kisah Pilu Korban Gempa Serta Tsunami Sulteng

Kordinator tim Wija Peduli, saat memberi bantuan kepada anak anak dan korban bencana Gempa dan Tsunami di Sulawesi tengah.

PALU, RAKYATSULSEL.COM – Genap sepekan Tim Wija Peduli berada di Sulawesi tengah, rombongan yang bergerak dari Pangkep, 11 oktober lalu, banyak menyimpan kisah pilu, haru dan duka. Mulai dari evakuasi reruntuhan, kapal Sabuk Nusantara yang terseret ke pemukiman warga, bayi yang lahir saat bencana, hingga ribuan warga yang masih tertimbun lumpur, pasca gempa dan tsunami.

Adalah Syamsinar, Kordinator Tim Wija Peduli, yang tidak segan meretas jalan, menempuh ratusan kilometer, demi membantu mereka yang menjadi korban keganasan bencana alam itu.

“Bukti jika dunia ini tidak harganya, begitu dasyat musibah yang ada di sulteng dan secara akal sehat tidak mungkin terjadi, namun itulah kekuasaan yang maha kuasa,” tutur Syamsinar yang dihubungi lewat ponselnya.

Meski baru sepekan, Tim Wija peduli berhasil menyisir 3 Kabupaten yakni Donggala, Sigi dan Palu. Termasuk 15 desa seperti Desa Bora, Desa Rantai Deda, Desa Empanau, Wani, Petobo, Tondo, hingga Balaroa, ikut menjadi saksi perjalanan tim yang berjumlah 12 orang tersebut.

“Kita bawa bantuan berupa sembako dan beberapa tenda untuk para pengungsi, kami juga hadir untuk menghibur anak anak untuk menghilangkan trauma mereka,”ungkap Syamsinar yang merupakan satu satunya perempuan dalam rombongan tersebut.

Menarik ketika menyinggung fenomena pergeseran tanah di desa Balaroa, akibat likuvaksi, Syamsinar mengungkapkan bahwa bencana yang dikirim, bukti kehendak yang maha kuasa. Lantaran melihat kondisi pasca bencana, mustahil ada korban selamat, namun fakta tidak berkata demikian.

“Mendengar cerita mereka, dari gempa hingga rumah rumah yang tertelan bumi, sepertinya musibah yang dikirim seakan diacak, karena korban ada yang selamat dan tidak, padahal mereka berada di satu titik yang sama,” jelasnya.

“Yang pasti kami datang disini, murni panggilan hati untuk membantu”, tutup pemilik Wija coffee Pangkep tersebut.

Dalam misi kemanusiaan sendiri Tim Wija Peduli menyempatkan mengunjungi korban asal kabupaten Pangkep, rencananya jumat (19/10) hari ini, Tim Wija Peduli akan kembali bertolak ke Pangkep. (*)


div>