MINGGU , 17 DESEMBER 2017

Timses Saling Ejek di Media Sosial

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 22 Juni 2016 11:25
Timses Saling Ejek di Media Sosial

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Genderang persaingan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel memang belum resmi ditabuh. Namun tim sukses kandidat mulai saling serang di media sosial.

Beberapa nama disebut-sebut akan menjadi suksesor Gubernur dua periode Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Mereka diantaranya Ichsan Yasin Limpo, Akbar Faisal, Luthfi A Mutty, Nurdin Abdullah, Agus Arifin Nu’mang, Tanri Balilamo, dan Rivai Ras. Bahkan mereka telah gencar melakukan sosialisasi baik lewat media massa, baliho, hingga ke jejaring media sosial.

Sarana media sosial menjadi salah satu objek para tim sukses kandidat untuk mensosilisasikan bakal calon Gubernur Sulsel jagoannya. Pasalnya, dalam media sosial bakal calon tersebut dapat melakukan interaksi dengan masyarakat Sulsel tanpa biaya. Baik itu melalu jejaring media sosial seperti facebook, twitter, path, line, dan instagram.

Bahkan dalam sebuah laman facebook “PILGUB SULAWESI SELATAN Rakyat Sulsel Mencari Pemimpin” telah diikuti lebih dari 24.351 akun dan pengikut akun dalam laman tersebut terus bertambah.

Ada hal yang menarik dalam akun media sosial tersebut, salah satunya adalah saling serang psikologisnya pada pendukung bakal calon Gubernur Sulsel mendatang. Bahkan, tak sedikit diantara para pendukung tersebut ada yang saling ejek dan menghujat satu sama lain.

Terkait hal tersebut, Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Syaharuddin Alrif mengatakan sosialisasi dalam media sosial sangat penting untuk dilakukan. Menurutnya, melalui media sosial bakal calon Gubernur akan memberikan informasi yang langsung dapat diakses oleh netizen.

[NEXT-RASUL]

“Kalau sosialisasi melalui media sosial itu lebih mudah untuk memberikan informasi kepada netizen dan ketika bakal calon kepala daerah tersebut sekali meng-up load informasi maupun program maka akan langsung bisa dibaca oleh ribuan orang,” jelasnya.

Ia menambahkan, sosialisasi dalam media sosial tidak akan lepas dari pro dan kontra. Oleh karena itu, kata dia, secara otomatis akun media sosial tersebut yang bersifat majemuk akan memberi penilaian suka dan tidak suka.

“Akun media sosial itu kan majemuk, sehingga wajar ketika ada netizen yang memberikan kritikan dan saran, bahkan dalam media sosial itu kadang ada tim masing-masing kandidat sehingga pro dan kontra tentu tidak bisa dihindari,” ulasnya.

Meski demikian, media sosial harusnya menjadi sebuah wadah untuk saling berbagai informasi tentang program bakal calon. “Saya pikir media sosial itu mesti menjadi wadah untuk saling bersilaturahmi dan memberikan informasi tentang program, yang tidak sehat itu adalah ketika media sosial dijadikan wadah untuk saling menghujat dan lain sebagainya,” terangnya.

Sementara itu, konsultan politik Nurdin Abdullah, Suwandi Idris mengatakan media sosial adalah media yang sangat efektif dalam melakukan sosialisasi. Menurutnya, melalui media sosial para simpatisan akan membentuk relawan secara instan.

“Media sosial itu sangat efektif dalam melihat simpati masyarakat secara umum, selain dengan kecepatan informasi dalam media sosial akan membantu bakal calon untuk memberikan informasi yang akurat sehingga akan berdampak pada elektabilitas dan kepopuleran bakal calon,” ulasnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait dengan dijadikan media sosial oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam melakukan penghinaan maupun hujatan kepada calon lain, direktur Indeks Politica Indonesia (IPI) mengatakan hal tersebut tidaklah sehat dan tidak produktif. Oleh karena itu, ia berharap tidak ada saling sindir diantara tim calon yang akan bertarung pada Pilgub Sulsel mendatang.

“Saya kira itu sebenarnya tidak sehat, sehingga kita berharap tidak ham yang seperti itu sebab semua calon tersebut adalah tokoh Sulsel terbaik, baik Pak Agus, Pak Nurdin, Pak Ichsan, dan bakal calon gubernur lainnya itu saling berhubungan dan berkomunikasi dengan baik sehingga jangan sampai ada yang terjebak oleh faksi yang tidak jelas,” terangnya.

Selain itu, ia juga mengatakan akan memberikan teguran kepada kelompok atau oknum yang melakukan penghinaan maupun menghujat salah satu kandidat. “Saya dan orang dekat Pak Nurdin yang terkoordinasi akan melakukan komunikasi untuk mencegah yang dapat merugikan Pak Nurdin maupun yang lain, apa lagi di Sulsel itu kan ada budaya sipakainge dan sipakalebbi’,” jelasnya.

Sementara Juru Bicara Ichsan Yasin Limpo, Arifuddin Saini juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, media sosial akan memiliki pengaruh namun tidak bisa disimpulkan persentasenya.

“Saya pikir yang begituan kan wajar ji, namanya juga mempromosikan diri. Yang pasti melakukan sosialsasi dalam media sosial akan berpengaruh namun tidak bisa diprediksi jumlah persentasenya,” ucapnya.

Meski demikian, kata dia, masyarakat sudah cerdas untuk memilih pemimpin yang berkualitas. “Saya pikir tidak ada masalah, biarkan saja setiap orang memuji dan memuja calon yang dianggapnya baik. Yang pasti itu masyarakat saat ini sudah cerdas untuk menilai pemimpin yang berkualitas dan punya kapasitas yang mumpuni,” ucapnya.

[NEXT-RASUL]

Ia menambahkan, meski memiliki keunggulan tersendiri media sosial juga memiliki kekurangan. “Kalau dilihat dari sisi efektifitas dan efesiensinya itu memang cukup lah, tapi itu hanya akan menjangkau daerah perkotaan saja, tidak bisa menjangkau daerah pedalaman dan daerah kepulauan,” ucapnya.

Lanjut, Arifuddin mengkritisi adanya beberapa akun media sosial yang tidak tidak bertanggung jawab dengan melakukan hujatan maupun fitnah terhadap calon tertentu. “Kalau ada akun media sosial yang melakukan fitnah dan menjustifikasi bakal calon tertentu tanpa ada data dan bukti yang kuat, apalagi kita ini di Sulsel ada budaya saling mengingatkan sehingga hal tersebut adalah hal yang keliru,” pungkasnya.

Terkait hal tersebut, pakar politik Unhas Makassar Adi Suryadi Culla, mengatakan jika saling serang antar tim sukses sudah mulai marak di dunia maya apalagi di media sosial. Bahkan dirinya juga mengaku jika mengikuti beberapa media sosial yang membahas tentang Pilgub Sulsel.

“Iya memang sudah mulai banyak saya liat, saya juga malah dikasi masuk juga di grup kayak BBM, WA, dan Facebook,” ujarnya.

Adi juga menegaskan jika di era digitalisasi sekarang ini media sosial memang memiliki kelebihan dibanding dengan media lain sebagai wadah dan sarana menyebarluaskan informasi, karena murah dan dapat diakses dimana saja.

Inilah kemudian yang dimanfaatkan oleh masing-masing relawan ataupun simpatisan pendukung dari calon gubernur. “Dinamikanya disitu, ketika mendekati momen-momen pilkada, simpatisan dan pendukung akan mulai membentuk opini dari figur jagoannya,” jelasnya.

Lebih jauh, Adi Suryadi menganggap hal ini (pembentukan opini) melalui media sosial adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, sepanjang masih berada dalam batasan yang sesuai dengan etika politik. Karena kata dia, jika keluar batasan dan menimbulkan ketersinggungan pihak lain bisa jadi berimplikasi ke ranah hukum.

[NEXT-RASUL]

“Saya hanya bisa mengingatkan para pendukung maupun simpatisan masing-masing calon, agar proses ini tetap mengedepankan persaingan secara sehat dan rasional, misalnya dengan adu opini mengenai program dan prestasi saja,” harapnya.

Ditanya sejauh mana efektifitas dan kemampuan sosial media mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya di pilgub nanti, Adi memastikan jika hal tersebut tidak dapat dijadikan ukuran dalam menggiring opini voters.

“Sosialisasi via medsos ini bisa jadi hanya sebagai pemanasan, pemilih sekarang kan sudah cerdas, apalagi pengguna medsos ini umumnya orang-orang yang cukup mengenyam pendidikan sehingga tahu membedakan mana isu yang benar dan mana yang tidak, karena bisa jadi apa yang menjadi tema pembahasan di medsos tersebut bisa jadi hanya manipulasi demi pencitraan bagi jagoannya,” pungkasnya. (E)


div>