SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Tokoh Pilihan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 27 Desember 2016 11:10
Tokoh Pilihan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Ketika Rasulullah Muhammad SAW wafat, jazirah Arab berkabung para sahabat Nabi hampir-hampir tidak percaya bahwa secepat itu mereka berpisah dengan sang manusia pilihan Muhammad saw, sehingga seorang Arab badui (pedalaman) datang kepada Umar bin Khattab menanyakan seperti apa akhlak Muhammad saw itu. Umar tidak bisa menjawab dan menyuruh orang Arab badui itu untuk menemui Bilal bin Rabah (muadzin di masa Nabi). Bilal pun hanya mampu menangis tidak dapat berkata-kata sepatah pun.

Akhirnya orang Arab pedalaman itu menemui Ali bin Abi Thalib sambil mengulangi pertanyaannya ceritakan kepadaku akhlak Muhammad. Ali menjawab dapatkah engkau menceritakan keindahan dunia ini?, orang Arab itu pun berkata mana mungkin aku menceritakan keindahan dunia dan isinya. Kemudian Ali pun berkata: keindahan dunia dan isinya saja tidak dapat engkau ceritakan kepadaku, padahal Allah dalam Alquran menyebtkan bahwa akhlak Rasulullah Muhammad saw lebih indah dari dunia beserta isinya.

Arab badui itu tidak merasa puas, lalu mendatangi Aisyah (Isteri Rasulullah) menanyakan: wahai Aisyah, engkau senantiasa hidup bersama Nabi ceritakan kepadaku akhlaknya. Aisyah menjawab: kalau engkau membaca Alquran khususnya surah Al-Mukminun ayat 1-11 seperti itulah akhlak Nabi.

Memperingati maulid Nabi tidak hanya sebatas upacara seremonial dalam bentuk perayaan sebagaimana yang banyak dilakukan umat Islam di Indonesia sekarang ini. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana menjadikan Nabi dengan sunnah-sunnahnya sebagai panutan atau suri teladan. Muhammad saw adalah pemimpin yang egaliter, toleran, humanis dan non-diskriminatif. Karena itulah di Madinah ketika Nabi Muhammad menjadi pemimpin, orang-orang non-muslim merasa terlindungi dan nyaman berada bersama Nabi. Berbeda dengan masa setelah Nabi wafat, orang-orang non-muslim justru ramai-ramai eksodus keluar dari kota Madinah.

Di masa Nabi seseorang bernama Ubay bin Ka’ab meminta kepada agar Nabi sudi mengunjungi orang tuanya yang sementara sakit. Umar yang mendengar permintaan Ubay bin Ka’ab marah dan berkata kepada Nabi: jangan penuhi permintaannya Rasul, dia itu musuh kita, keburukan seluruh isi alam ini terkumpul pada dirinya. Nabi hanya tersenyum, sambil berjalan menuju rumah Ubay bin Ka’ab dan meninggalkan umat Islam yang sementara menunggu di lapangan untuk salat idul Adha. Ketika nabi tiba di rumah Ubay bin Ka’ab, ia lalu berkata sudikah engkau Muhammad menyelimuti orang tuaku dengan jubahmu. Mendengar hal itu Umar semakin marah dan berkata: jangan penuhi permintaannya Rasul. Lagi-lagi nabi hanya tersenyum dan menelimuti orang tua Ubay dengan jubahnya. Kemudian tidak lama berselang orang tua Ubay menghembuskan nafas terakhirnya setelh mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sikap Nabi yang hanya tersenyum mendengar penolakan Umar agar Nabi tidak memenuhi permintaan Ubay bin Ka’ab karena menurut Nabi kemarahan Umar adalah bukti kecintaannya terhadap Islam, namun kecintaan Umar belum sempurna karena kebencian Umar masih mengalahkan perasaan cintanya kepada Islam.

Menjadikan Nabi muhammad saw sebagai panutan dan suri teladan yang baik dengan cara: Pertama, mengokohkan dalam hati akan kecintaan kita kepadanya sebagai konsekuensi dari komitmen umat Islam yang ridha Allah menjadi Tuhan, Islam menjadi agama, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, Alquran sebagai imam. Kedua, menjadikan Muhammad saw beserta sunnahnya sebagai contoh dan ikutan yang baik. Ketiga, melestarikan ajaran-ajaran yang di bawah oleh Nabi muhammad saw dalam kehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga fungsi sebagai rahmatan lil-alamin benar-benar tercipta dan terasa dalam seluruh aspek kehidupan. (*)


div>