SENIN , 22 OKTOBER 2018

Tokoh Sulsel Penentu Munaslub Golkar

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 25 Februari 2016 12:00
Tokoh Sulsel Penentu Munaslub Golkar

int

PENULIS: SOFYAN – SURYADI
EDITOR: LUKMAN

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Partai Golkar dalam waktu dekat akan menggelar Musyawarah Luar Biasa (Munaslub). Hajatan ini guna memilih ketua umum yang baru sekaligus mengakhiri dualisme internal di tubuh beringin.

Menariknya, Munaslub Golkar kali ini diprediksi bakal menjadi panggung tokoh-tokoh asal Sulsel. Bahkan bukan tidak mungkin Golkar kembali akan dipimpin oleh orang Sulsel.

Nama pertama tentu Nurdin Halid. Wakil Ketua Golkar ini ditunjuk oleh Aburizal Bakrie dan Agung Laksono sebagai ketua panitia pengarah atau steering committee (SC) Munaslub.

Dua nama selanjutnya adalah Sekjen Golkar Idrus Marham dan Ketua Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Keduanya telah menegaskan bakal maju bertarung pada Munaslub untuk merebut kursi nomor satu Golkar.

Lalu tentu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Tokoh senior Golkar ini tentunya turut diperhitungkan dan diprediksi terlibat langsung dalam menentukan ketua umum Golkar yang bakal terpilih pada Munaslub mendatang.

JK pulalah yang awalnya menginisiasi agar Golkar segera berdamai dengan digelarnya Munas atau Munaslub. Dan tentunya posisi JK di pemerintahan akan semakin kuat jika yang menjadi ketua Golkar adalah orang pilihannya.

Terkait keterlibatan tokoh Sulsel di Munaslub Golkar, Pakar Politik Universitas  Pejuang RI (UPRI) Makassar, Saifuddin Almugny menyebutkan ketika Nurdin dan JK bermain dengan sistematis dipastikan kursi empuk Partai Golkar akan dinakhodai putra Sulsel Syahrul Yasin Limpo, atau kader Sulsel lainya.

[NEXT-RASUL]

“Kita tahu dalam kegiatan apapun peran SC sangat menentukan. Urjenya menentukan dalam artian bisa memainkan peran forum dan konstalasi pemilihan. Sedangkan peran pak JK sebagai tokoh nasional bisa mampu memainkan retorika dan propaganda melalui berbagai pihak. Dan hal ini bisa saja terjadi peluang putera Sulsel pimpin partai beringin ketika dimainkan secara sistematis,” ujarnya.

Menurut Saifuddin, hal itu hanya bisa terjadi jika komunikasi antara Syahrul dengan Nurdin dan JK terjalin dengan baik. Maka, peluang untuk tokoh Sulsel memimpin partai berlambang beringin tersebut terbuka sangat lebar.

“Dari segi isu kita pahami. Propaganda pak JK masih di dengar sebagian besar kader Golkar, sedangkan lancar dan tidaknya kegiatan Munaslub tergantung peran SC memainkanya. Inilah kesempatan tokoh Sulsel untuk bisa memanfaatkan momentum tersebut jika kembali ingin mengendalikan Golkar,” tuturnya.

Anggota Lembaga Kajian Isu Sosial (LKIS) Sulsel ini mengatakan Munaslub Golkar, akan menjadi momentum sejarah bagi putera Sulsel untuk berkiprah melanjutkan tokoh-tokoh terdahulu.

“Tokoh terdahulu seperti pak JK dan juga tokoh Sulsel lainnya yang pernah memimpin partai lain, inilah peran putera Sulsel yang lain di internal Golkar bergandengan tangan untuk mendukung salah satu putera Sulsel maju sebagai ketua umum Partai Golkar,” jelasnya.

Sementara Pakar politik Unibosowa 45 Makassar, Arief Wicaksono menuturkan ketika Nurdin dan JK ikut berperan maka dipastikan peluang SYL untuk memimpin Golkar sangat besar.

“Peluang pak SYL tentu akan sangat besar, apalagi jika ditopang dukungan kader

Golkar lainnya. Karena SC dan tokoh nasional pak JK ikut bermain,” ucapnya.

[NEXT-RASUL]

Meski demikian, Arief menyebutkan, dinamika politik akan berubah kapan saja ketika tak diimbangi dengan koordinasi dan komunikasi yang baik maka kesolidan komitmen akan terjaga. “Konstalasi bisa berubah, ketika tidak diimbangi dengan komunikasi yang baik,” jelasnya.

Sementara Ketua Tim Pemenangan SYL di Munaslub, M Roem menanggapi dingin tentang struktur panitia Munaslub yang didalamnya ada salah satu senior Golkar asal Sulsel, Nurdin Halid. Ia mengatakan tidak ada masalah dengan hal itu, yang terpenting kata dia adalah struktur panitia tersebut terdiri atas dua kubu yang sebelumnya saling bertentangan.

“Tidak ada ji masalah, kita berpikir positif sajalah, yang terpenting adalah struktur panitia tersebut terdiri dari dua kubu yang selama ini bertentangan. Pak Syahrul, Pak Nurdin, dan Pak Idrus itu bersaudara, jadi saya kira itu tidak masalah,” ujarnya.

Guna memuluskna langkah Syahrul di Munaslub, Roem langsung bergerak cepat dengan mengumpulkan seluruh pengurus DPD I Golkar untuk melakukan rapat tertutup di sekretariat Golkar Sulsel jalan Bontolempangan Makassar pada, Rabu (24/2).

Menurut dia, rapat tersebut terkait akan dilaksanakannya pertemuan kepada seluruh pimpinan DPD II se-Sulsel pada tanggal 25 Februari dan 26 Februari akan berlangsung acara Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro).

“Tadi kita bahas tentang dua acara yang akan dilaksanakan oleh Golkar Sulsel, yakni pada tanggal 25 Februari akan berlangsung pertemuan kepada seluruh pimpinan DPD II se-Sulsel pada tanggal 25 Februari dan 26 Februari akan berlangsung acara Kosgoro dengan menghadirkan kader Kosgoro yang juga menjabat sebagai pengurus DPD I se-Indonesia,” terangnya.

Ia menambahkan, khusus untuk pertemuan kepada seluruh DPD II se-Sulsel pada 25 Februari besok, akan membahas tentang majunya ketua DPD I yang juga Gubernur Sulsel dua periode Syahrul Yasin Limpo sebagai ketua umum Golkar pada Munaslub mendatang. Selain itu, kata dia, pada pertemuan itu juga akan ditekankan kesolidan ketua DPD II untuk mendukung SYL.

[NEXT-RASUL]

“Untuk pertemuan di Hotel Condotel, kita akan bahas tentang majunya Pak Syahrul sebagai calon ketua umum Golkar pada Munaslub mendatang, selain itu, kita ingin mensolidkan seluruh ketua DPD II Golkar se-Sulsel untuk mendukungnya,” ucapnya.

Sementara Ketua Bidang Organisasi dan Hukum Tim Pemenangan SYL, Arfandi Idris mengatakan hal yang sama. Ia menilai dengan adanya Nurdin Halid dalam struktur panitia tidak menjadi sebuah yang perlu dipermasalahkan. Malah, dirinya menyoroti aturan yang dapat menghambat kader untuk maju sebagai ketua umum Golkar.

“Saya kira itu tidak menjadi sebuah masalah, yang penting adalah mengantisipasi adanya aturan yang dapat menghambat kader untuk maju sebagai calon ketua umum seperti calon ketua umum harus bertempat tinggal di ibukota,” terangnya.

Lanjut Arfandy, jika calon ketua umum harus mendapat dukungan dan rekomendasi dari DPD I dan DPD II sebanyak 30 persen tapi akan rancuh ketika semua calon meminta rekomendasi pada DPD I dan II yang sama.

Sehingga ia menilai dalam menjaring ketua umum Golkar pada Munaslub mendatang sebaiknya menggunakan sistem tahap bakal calon menjadi calon yang dipilih seluruh pemilik suara.

“Syarat 30 persen usungan untuk bisa maju sebagai ketua umum itu masih normatif saja dan saya kira syarat itu akan rancuh ketika semua calon meminta rekomendasi pada semua DPD I dan II, oleh karenanya lebih baik untuk menjaring ketua dengan tahapan bakal calon, kemudian calon, dan nantinya yang menjadi posisi tiga besar masuk sebagai dan berhak dipilih oleh pemilik suara sebagai ketua umum Golkar,” terangnya. (E)


Tag
  • munaslub gol
  •  
    div>