RABU , 21 NOVEMBER 2018

Tradisi Kenabian

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 15 September 2015 14:24
Tradisi Kenabian

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Oleh: Darussalam Syamsuddin

Kurang lebih sepuluh hari ke depan umat Islam akan memperingati Idul Adha atau hari raya haji disebut juga dengan idul qurban. Qurban tergolong ibadah klasik, hampir semua agama dan kepercayaan mengenal dan melaksanakan qurban dengan berbagai tata cara, bentuk dan persembahan, sesuai watak syari’at yang dibawa.

Untuk pertama kalinya, sejarah kemanusiaan mencatat refleksi pengorbanan Habil dan Qabil. Habil adalah keturunan Adam ‘alaihi salam berwatak lembut dan berprofesi sebagai peternak, sedang Qabil juga keturunan Adam alaihi salam yang berwatak keras dan berprofesi sebagai petani.

Ketika Tuhan memerintahkan keduanya untuk berkurban dengan hasil pekerjaan masing-masing, Habil memilih ternaknya yang terbaik untuk dikurbankan, diterima Allah karena sebuah ketulusan. Sementara Qabil mengorbankan hasil kebunnya ditolak oleh Allah karena hati dan niatnya dipenuhi ambisi hawa nafsu.

Hal ini mengandung pelajaran bahwa seseorang dalam beramal boleh jadi amal yang dilakukan tersebut sama dengan orang lain, beban juga sama dan waktu pun sama namun nilainya bisa berbeda di sisi Tuhan. Tergantung pada nilai keikhlasan yang mendasarinya.

Menurut sejarawan at-Thabary, qurban merupakan tradisi nubuwwah (tradisi Kenabian). Sejarah para nabi terdahulu hampir seluruhnya bermuatan pengorbanan, baik dalam bentuk binatang sembelihan, tenaga, pikiran maupun jiwa.

Nabi Nuh ‘alaihi salam misalnya, sebagaimana yang tercantum dalam sejarah bahwa umat berikut isteri dan anaknya ingkar terhadap perintah Tuhan kemudian ditimpa bencana berupa banjir yang sangat dahsyat, lalu Tuhan memberi petunjuk kepada Nuh agar membuat bahtera (perahu) sehingga ia dan umatnya yang taat selamat dari musibah yang maha dahsyat tersebut sementara istri dan anaknya yang ingkar tidak dapat diselamatkan.

Maka setelah Nuh ‘alaihi salam dan kaumnya yang taat selamat dari amuk banjir, ditempat mana perahunya berlabuh, beliau berqurban. Puncak sejarah qurban itu mengkristal pada tragedi penyembelihan Ismail ‘alaihi salam. Kemudian diganti oleh Allah dengan seekor binatang sembelihan.

Karena itu, berkaitan dengan ibadah qurban terdapat nilai-nilai yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu: nilai spiritual transendental dan nilai sosial humanis. Nilai spiritual transendental sebagai konsekuensi ketaatan dan ketundukan kepada Allah.

Karena itu dalam berbagai literatur biasa kita temukan penjelasan bahwa Nabi Daud alaihi salam bertanya pada Tuhan apa yang diperoleh umat Muhammad dengan qurban itu. Tuhan menjawab bahwa akan kuberikan sepuluh kebajikan dari setiap helai bulu qurban itu, akan kuhapus sepuluh kesalahannya dan akan kutinggikan derajatnya sepuluh derajat.

Dalam berbagai kesempatan Rasulullah bersabda bahwa ada tiga hal yang wajib bagi diriku dan sunnat untuk umatku, ketiga hal itu adalah: salat witir, salat dhuha dan berqurban. Karena itu qurban itu adalah sunnat muakkad (sunnat yang sangat dianjurkan).

Bahkan Rasulullah sering mengingatkan tentang keutamaan orang-orang yang berkurban bahwa setiap tetesan darah dari kurban itu sebelum menyentuh bumi adalah merupakan penghapusan atas dosa yang dilakukan oleh yang berkurban.

Ibadah qurban bukan sekedar mengenang peristiwa-peristiwa terdahulu atau sekadar mengejar pahala sebagai bentuk kepatuhan kepada Tuhan. Namun lebih dari itu, qurban diharapkan melahirkan pribadi-pribadi yang saleh dan inovatif yakni tidak hanya saleh secara ritual, tapi juga saleh secara sosial. Semangat untuk mendekat (taqarrub) kepada Tuhan ini merupakan salah satu inti ajaran Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW.

Idealnya setiap kepala keluarga melaksanakan qurban meskipun dengan cara sumbangan (urunan). Sedang bagi yang belum mampu, dapat melaksanakan secara cicilan (invest qurban). Dan yang tidak mampu sama sekali, maka ia hanya mendapatkan pahala dari niat ikhlas orang yang berqurban.

Rasulullah SAW ingin mencontohkan kepada kedua belah pihak (yang mampu dan yang tidak mampu) untuk melakukan sosial interaktif. Bagi orang yang mampu berqurban memperhatikan saudaranya yang tidak mampu, sedang yang tidak mampu (dhuafa) merasa terayomi. Hasil akhirnya adalah kebersamaan, keberpihakan dan kesetiakawanan.

Ibadah qurban memperingatkan kepada kita untuk senantiasa mau berbagi dalam menikmati rezki yang diberikan Allah. Rasulullah SAW berpesan tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kamu yang tidur lelap karena kekenyangan, sedang tetangga, mitra kerja dan karib-kerabatnya tidak dapat tidur karena kelaparan.

Prinsip kepedulian terhadap orang lain menjadi komitmen bukan semata-mata sebuah janji yang terucap di mulut, komitmen juga tidak hanya ada dalam pikiran, tetapi komitmen harus diwujudkan melalui perbuatan dan langkah yang bisa diukur secara nyata dan visual seperti yang dicontohkan melalui makna idul qurban yang diajarkan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihi salam.


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>