Tragedi Sepakbola Dunia

Haidar Majid

BUKAN karena saya orang Makassar, juga bukan karena saya cinta PSM, maka saya menulis tentang “tragedi sepakbola dunia”. Tetapi bisa juga karena memang saya orang Makassar dan memang saya cinta PSM, maka saya menulis tentang “tragedi sepak bola dunia”. Ini penting saya jelaskan di awal, biar jelas antara posisi obyektivitas saya, juga jelas posisi subyektivitas saya.

Kenapa ini penting saya jelaskan diawal, karena seringkali subyektivitas mengaburkan obyektivitas dan seringkali obyektivitas dituding sebagai subyektivitas belaka. Dan untuk itu, agar obyektivitas saya tetap terjaga, sengaja saya menyaksikan berulang-ulang tayangan pertandingan antara PSM Makassar VS Persija Jakarta yang berlangsung beberapa hari lalu via YouTube.

Dari sebuah tayangan YouTube yang berdurasi 1 menit 37 detik, terlihat kemelut di depan gawang Persija. Wiljan Pluim yang mendapat umpan, menahan bola, bola tersebut berputar ke atas, lalu ke tanah dan selanjutnya dieksekusi dengan begitu cantik oleh Pluim dan bergetarlah jala gawang Persija. Gol !

Pantaslah Pluim berselebrasi sebagaimana kita bersorak dan dunia bersorak, karena sungguh tak mudah menyaksikan gol-gol cantik seperti itu, meski akhirnya selebrasi dan sorak sorai itu harus kandas, akibat wasit menganuir dengan alasan yang “tidak jelas”. Sungguh tak jelas dan memang tak jelas.

Cobalah kita beramai-ramai menyaksikan tayangan ulang pertandingan itu. Saya yakin, kita punya kesimpulan yang sama “apa yang salah?, apa yang dilanggar? Hands ball kah ? Off side kah? Atau jangan-jangan hanya karena Pluim bersiul lantas dianggap melanggar?” Semua pasti bingung, semua pasti penasaran.

Mungkin itulah kenapa bola disebut bundar, karena bola bisa menggelinding, bisa berputar dan bisa melayang. Sayangnya, ternyata wasit bisa sekali-sekali membuat bola menjadi segi tiga, bahkan segi empat, sehingga bola tidak lagi menjadi indah, tak lagi cantik dan sama sekali tidak menarik, karena keputusannya yang kontroversi, tidak obyektif, malah cenderung memihak. [NEXT-RASUL]

Padahal, posisi wasit sangat strategis di setiap pertandingan sepakbola. Keseruan sebuah laga yang mengundang animo untuk ditonton dua kali empat puluh lima menit full, selain karena skill dan keindahan bermain bola yang ditampilkan oleh pemain, juga kepemimpinan wasit yang tidak memihak, berimbang, menghukum yang salah dan mengganjar yang melanggar, menjadi faktor yang sangat berpengaruh.

Tak heran jika berbagai komentar miring hadir di media sosial, yang mengkritisi, mencemooh, bahkan menghujat kepemimnan wasit di laga Persija VS PSM itu. Komentar miring, kritikan dan cemoohan datang bukan saja dari supporter atau pencinta PSM, tetapi para pencinta sepak bola dari belahan bumi manapun akan melakukan hal yang sama.

Hal ini beralasan karena gol cantik dari Pluim dengan semena-mena dianulir oleh wasit, belum lagi Pluim yang jelas-jelas tidak melakukan pelanggaran apa-apa malah diganjar kartu kuning. Saya menyebut kejadian ini sebagai “tragedi sepakbola dunia”, tragedi yang menghilangkan semangat untuk menjadi pemain handal, tragedi yang membunuh kesempatan penonton untuk menyaksikan gol indah dari seorang Pluim dan tentu saja tragedi yang mencederai sepakbola dunia secara keseluruhan. (*)