SELASA , 16 OKTOBER 2018

Trah Kada Berburu Senayan

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Senin , 16 Juli 2018 12:30
Trah Kada Berburu Senayan

Gedung DPR. (ist)

*Demokrat dan Gerindra Kompak Akui Bagian Mekanisme

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Perburuan kursi menuju Senayan, trah kepala daerah tak kalah gesit. Harapan meraih suara rakyat di bawah bayang ketenaran bupati/walikota.

Tiga partai politik (Parpol) yakni Golkar, NasDem dan Gerindra paling banyak menjaring keluarga kepala daerah sebagai bakal calon legislatif (bacaleg).

Selain suami Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, Muhammad Fauzi, Golkar ikut memplot putra Bupati Enrekang di Dapil Sulsel III.

Persaingan sesama keluarga dekat kepala daerah lebih kompetitif di Dapil Sulsel III, setelah NasDem melakukan strategi yang sama. Bupati Sidrap, Rusdi Masse dan istri Wabup Torut menguat di bursa bacaleg parpol besutan Surya Paloh tersebut di Dapil yang meliputi Luwu Raya, Toraja dan Toraja Utara serta Enrekang, Pinrang dan Sidrap tersebut.

Di luar itu, masih ada Demokrat dan Gerindra yang ikut memplot keluarga dekat kepala daerah sebagai Caleg DPR RI Sulsel III. Demokrat memplot Irma Irwan Hamid, sementara Gerindra kembali memunculkan Felicitas Tellulembang.

Dua Ketua PKK menjadi bagian Golkar dalam perburuan suara rakyat menuju Senayan di Dapil Sulsel II, selain dipastikan merangkul Wabup Soppeng, Supriansah. Dua Ketua PKK yakni Erna Rasyid Taufan dan Ketua PKK Pangkep juga ikut digaet.

Figur populer Yaqkin Padjalangi justru meninggalkan Golkar. Saudara kandung Bupati Bone terpilih, Fashar Padjalangi tersebut, berlabuh ke PDIP untuk berkompetisi sebagai Caleg DPR RI.

Pilihan maju sebagai Caleg DPR RI di Sulsel II ikut melibatkan Ketua PKK Kabupaten Barru, istri Suardi Saleh memilih mundur sebagai Kadiskes dan bakal maju sebagai Caleg DPR RI bersama mantan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) di zona Bosowasi, Parepare, Barru, Pangkep dan Maros tersebut.

Adapun Gerindra kembali memplot Rudiyanto Asapa. Mantan Bupati Sinjai yang juga ayah Bupati Sinjai terpilih Andi Seto Gadhista tersebut kembali maju sebagai Caleg DPR RI Sulsel II.

Bagaimana di Sulsel I? Wawali Makassar, Syamsu Rizal masuk bursa bacaleg DPR RI Golkar bersama Ketua PKK Jeneponto. Sebaliknya, kakak kandung Ketua Golkar yang juga Bupati Selayar, Basli Ali, Muh Rapsel Ali, justru menjadi tumpuan NasDem.

Ketua PKK Takalar ikut mewacana di bursa Caleg DPR RI melalui PKS. Termasuk mantan Wabup Bantaeng yang disebut-sebut diplot Partai Beringin Berkarya.

Juru Bicara Gerindra Sulsel, Syawaludin Arif yang dikonfirmasi mengatakan, adanya sejumlah figur Partai Gerindra yang akan maju DPR RI adalah bukan bentuk kesengajaan. Melainkan, figur-figur tersebut hasil dari penjaringan yang dilakukan oleh Gerindra dalam menyeleksi bacaleg yang memang benar-benar punya potensi baik.

“Kalau kita bukan berfokus pada keluarga kepala daerah. Semua caleg DPR RI itu adalah hasil dari rekomendasi lembaga survei. Kebetulan saja dia adalah keluarga kepala daerah dan ini adalah rekomendasi lembaga survei untuk memantapkan caleg-caleg DPR RI,” kata Syawal.

Dengan adanya sejumlah bacaleg dari keluarga kepala daerah tersebut, Syawal mengaku Gerindra optimis dapat manaikkan hingga seratus persen perolehan kursi di DPR RI. Apalagi memang, partai besutan Prabowo Subianto ini sangat selektif dalam melakukan penjaringan bacaleg.

“Yang jelas kita akan menjadi 100 persen DPR RI. Kalau kita ada tiga kursi akan ada kenaikan 100 persen menjadi 6 kursi,” tandasnya.

Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah mengatakan, figur-figur keluarga kepala daerah memang menjadi hal yang cukup meyakinkan untuk menambah pundi-pundi suara di Pileg mendatang.
Apalagi, Demokrat dalam menyeleksi bacaleg memiliki mekanisme yang sangat terstrukut untuk melihat potensi-potensi yang ada.

“Sejak awal kita memang membuka ruang 20 persen eksternal yah. Jadi yang pertama kita berharap bisa menambah perolehan suara,” kata Ni’matullah.

Apalagi memang, ada keluarga kepala daerah yang baru bergabung untuk maju melalui gerbong partai berlambang Mercy ini. Hal ini lanjutnya, menjadi bukti bahwa Partai Demokrat diterima dan dipercaya oleh masyarakat luas.

“Karena ada memang yang bukan kader sejak awal, nah sebelum mendaftar harus ambil KTA dulu,” tandasnya.

Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Natsir mengatakan, partai berlambang beringin memberikan kesempatan kepada semua kader yang ada di Sulsel untuk mendaftarkan diri menjadi caleg.

“Menghadapi pileg, Golkar membuka ruang kepada semua kader. Soal komposisi kan ada mekanisme dan tahapan seleksi di partai sebelum mendaftar di KPU,” katanya, Minggu (15/7/2018).
Terkait dengan sejumlah nama mantan kepala daerah atau istri yang dikabarkan maju ke senayan melalui Partai Golkar, Abdillah Natsir menyampaikan hingga saat ini DCS masih di rampungkan untuk didaftarkan di KPU.

Menurutnya, Golkar punya target untuk menang di Pileg 2019, sehingga siapapun yang maju dipastikan berpeluang menang.

“Untuk nama-nama caleg masih di DPD, kemudian disetor ke KPU besok (hari ini). Kalau bicara Dapil Sulsel untuk bertarung di senayan. Harus punya hitungan menang,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Tim Seleksi Caleg DPW NasDem Sulsel, Tobo Hairuddin mengatakan, NasDem Sulsel telah merampungkan semua pesyaratan untuk mendaftar di KPU.

Ia berharap figur yang masuk dalam daftar caleg di Senayan maupun daerah bisa memenangkan Pemilu 2019 mendatang.

“Tentu semua partai ingin menang. Jadi kader yang masuk caleg kita harap juga menang di dapil masing-masing,” harapnya.

Ketua DPP NasDem Willy Aditya mengaku mempersiapkan Wakil Ketua Umum NasDem, Syahrul Yasin Limpo untuk menjadi Caleg, namun penempatan SYL kemungkinan bukan di wilayah yang pernah dikuasainya selama dua periode menjabat Gubernur Sulsel. “Ada beberapa pertimbangan SYL akan diplot menjadi caleg di Dapil diluar Sulsel,” kata Willy.

Menurutnya, SYL yang pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi se-Indonesia (APPSI) dua periode menjadi modal bagi SYL untuk dapat menjadi caleg di mana saja.

“Memang NasDem mempersiapkan pak Syahrul jadi caleg, namun untuk dimana tempatnya, kita masih menunggu arahan dan petunjuk ketua umum,” tutur Willy Aditya.

Menanggapi fenomena caleg keluarga kepala daerah ini, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, dalam penjaringan bacaleg, partai politik memang tidak terhindar dari yang namanya kepentingan, sehingga mengenyampingkan kesetaraan dalam melihat potensi kader.

Hal ini dapat berimbas pada kader yang memiliki potensi namun tidak diberikan ruang untuk aktif berpartisipasi. “Partai politik ini memang di kelola dengan model oligarkis. Semangat nepotisme juga sudah mengakar. Situasi ini bisa membuat kader potensial akan tersisih dan tidak menjadi prioritas. Praktek dinasti di partai politik akan menghambat sirkulasi elit partai,” kata Luhur.

Luhur menjelaskan, harusnya partai politik tidak menggunakan sistem berdasarkan strata dari para bacalegnya. Sehingga dapat lebih terbuka dan rasional untuk meilhat potensi para kader-kadernya yang memang memiliki potensi dan bukan hanya modal keluarga besar saja.

“Padahal idealnya partai politik harus membangun sistem rekrutmen berbasis meritokrasi. Sistem pengambilan keputusan juga lebih rasional. Sehingga kedepan, sistem pengambilan keputusan di partai tidak didasarkan pada kebiasaan keluarga-keluarga tertentu,” terangnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Bosowa Arief Wicaksono mengatakan, partai politik bebas dalam menentukan siapa yang akan didorong menjadi wakil rakyat. Tentunya penilaian juga dilakukan untuk meilhat seberapa besar peluang menang yang bisa didapatkan.

“Saya kira itu benar dan menjadi haknyalah para aktor politik itu, meskipun merupakan keluarga kepala daerah atau mantan kepala daerah,” kata dia.

“Kalau benar mereka-mereka nantinya yang akan duduk di parlemen, maka yang paling menarik dan yang sekarang sedang terjadi adalah fenomena berpindahnya locus isu dinasti, dari eksekutif ke legislatif,” lanjutnya. (*)


div>