• Kamis, 31 Juli 2014
Iklan | Privacy Policy | Redaksi | Citizen Report

Transaksi “Ayam” Kampus Makin Marak Di Makassar

Pesan Lewat BBM, Pengguna Dari Pengusaha Hingga Pejabat

Minggu , 03 Maret 2013 07:23
Total Pembaca : 4675 Views
ILUSTRASI

Baca juga

SEKARANG jamannya instan. Serba cepat. Terlebih dengan perkembangan teknologi sekarang. Hanya dengan memesan lewat ponsel cerdas BlackBerry Messenger (BBM), “ayam” kampus atau oknum mahasiswi yang menjadi pekerja seks komersial bisa dipesan.

Malam itu, Rakyat Sulsel mencoba mencari tahu keberadaan mereka di Kota Makassar. Lewat referensi nomor PIN dari teman, akhirnya berkenalan dengan sang mucikari. Hanya dengan sekali PING!!! ajakan chat langsung direspon mucikari, sebut saja namanya TZ.

Tak perlu basa-basi, TZ langsung membuka perbincangan. “Ada barang baru,” tulisnya di BBM. Hanya hitungan detik, foto si ayam kampus langsung dikirim. TZ tidak hanya mengirim satu foto, tetapi foto-foto ayam kampus lainnya.

“Mau yang mana?” tanyanya.

Ketika ditanya tarif, TZ menjelaskan secara gamblang. “Kalau yang baju hijau, mahasiswa….., 1 jt. Baju merah, mahasiswa semester awal 1,5 jt. Short time ya,” jelasnya.

Perbincangan lewat BBM semakin seru. Setelah memilih ayam kampus yang dimaksud, TZ kembali menanyakan. “Di hotel mana, kamar berapa?” tanyanya.

Tak sampai setengah jam, wanita yang telah dipesan lewat sang mucikari menampakkan batang hidungnya. Penampilannya tak beda jauh dengan foto yang dikirimkan. High heels, jeans ketat, tank top, dan satu lagi, baunya wangi. Perbincangan di kamar hotel hanya seperlunya. Minta duit, masuk kamar mandi, lalu minta lampu dipadamkan.

Beberapa hari kemudian, kesempatan wawancara bersama sang mucikari, TZ akhirnya kesampaian. Pengakuan TZ, dia merekrut ayam-ayam kampus dari pergaulan. Pembawaaannya yang agak gemulai memudahkan TZ bergaul dengan para ayam kampus. “Dari teman ke teman kenalannya. Ada yang malu sampai terang-terangan,” ucapnya.

Disinggung pemesan ayam kampus ini, TZ menjelaskan pelanggannya datang dari semua kalangan. Bermodalkan pertemanan di kontak BBM, TZ sangat terbantu menawarkan ayam kampusnya. “Tinggal gonta-ganti saja foto ayam-nya. Pasang foto seksinya, pasti banyak yang mau,” katanya.

Untuk urusan pelanggan, TZ melanjutkan punya pelanggan tetap. “Biasanya ada yang pesan khusus,  minta tamunya ditemani, mulai dari kalangan pengusaha sampai pejabat. Jadi tak usah repot-repot,” jelasnya.

Lebih jauh TZ mengatakan, untuk menyewa jasa ayam kampus bervariasi. Harganya bisa berbeda, tergantung paket short time atau long time. Transaksi harga menurutnya bisa lewat BBM, tetapi ada juga ayam kampus yang mengatur penjualannya sendiri.

“Kebanyakan juga, para ayam membatasi dan sedikit memilih tamunya. Karena, di samping soal uang, para ayam berpikir tentang selera,” jelasnya. Namun, lanjut TZ, ada juga ayam kampus yang menganggap seks sebagai kebutuhan. Mereka umumnya pertama kali melakukan hubungan seks bersama pacarnya. Karena sering ditinggal pacar atau putus, mereka lantas mencari pria lain demi memenuhi kebutuhannya. Lambat laun mereka terbiasa dipakai oleh pria hidung belang. “Jarang ada mahasiswi perawan lantas menjadi ayam kampus. Mereka sudah berhubungan seksual dengan pacarnya,” lugasnya.

Fenomena ayam kampus di kota ini, menurut Psikolog Universitas Indonesia Timur (UIT), Riyadi, bukanlah sesuatu yang baru, karena dari dulu sudah banyak ditemukan. Hanya saja di masing-masing daerah beda penyebutan dan modus operandinya.

Riyadi menyatakan, bahwa salah satu yang mengakibatkan fenomena ini terjadi adalah adanya keinginan untuk tampil eksis. “Mereka itu biasanya berasal dari daerah, sehingga ketika mereka merasakan kehidupan di kota, mereka menjadi kaget sebab kehidupan di kota lebih modern. Karena mereka juga ingin diakui akhirnya mereka pun melakukan segala cara agar juga bisa tampil eksis dan mendapatkan pengakuan dari teman-temannya. Hal ini juga sebenarnya menunjukkan bahwa mereka belum betul-betul dewasa,” terangnya.

Menurut Riyadi, tidak sedikit dari ayam kampus ini, yang awalnya hanya ingin coba-coba. “Selain itu, banyak dari ayam kampus ini yang awalnya hanya coba-coba, tapi karena mereka merasa nyaman, dan ada juga orang yang menggodanya, akhirnya mereka keterusan, dan sampai di suatu titik menganggap hal ini sudah biasa bahkan menjadi kebutuhan, karena ingin sesuatu yang cepat dan praktis,” jelasnya

Jika ditinjau dari sisi psikologis, menurut Riyadi, setiap mereka melakukan hal tersebut pasti ada perasaan bersalah yang akan muncul. “Sebenarnya setiap melakukan hal tersebut, pasti mereka ada perasaan bersalah, hanya saja keinginannya untuk tampil eksis itu jauh lebih besar, sehingga menutupi perasaan bersalahnya. Untuk hal seperti ini, biasanya penyesalan akan datang seiring dengan bertambahnya waktu.” tuntasnya. (al-M1)