SELASA , 23 OKTOBER 2018

Trauma, Warga Ingin Tinggalkan Palu

Reporter:

Editor:

Iskanto

Selasa , 02 Oktober 2018 08:30
Trauma, Warga Ingin Tinggalkan Palu

Tumpukan besar puing mobil dan sepeda motor diantara puing-puing sampah Tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah. (AP: Tatan Syuflana)

PALU, RAKYATSULSEL.COM – Rasa takut dan trauma tak henti-hentinya dirasakan warga Palu, Sulawesi Tengah, pasca gempa dan tsunami Jum’at (28/9) lalu.

Ribuan warga memadati Bandara Sis Al Jufrie, Palu. Mereka ingin meninggalkan Kota Palu menuju ke daerah sekitar lantaran takut akan adanya gempa susulan.

Kericuhan di bandara pun tidak dapat hindari karena ribuan masyarakat mendesak masuk bandara untuk minta dievakuasi keluar dari Palu. “Saya ingin keluar dari Palu,” ujar salah satu warga.

Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, ribuan warga Palu kini berhamburan di Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Kota Palu. Panglima memastikan, warga yang berniat meninggalkan Kota Palu akan diangkut dengan menggunakan kapal milik PT Pelni.

“Sebanyak 3.000 sampai 5.000 orang itu akan diangkut kapal Pelni. Saya sudah koordinasi dengan Ibu Menteri BUMN, Pelni sudah di sana, mereka akan diangkut keluar dari Palu,” kata Panglima TNI, di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin 10 Oktober 2018.

Panglima TNI membenarkan penerbangan pesawat Hercules milik TNI AU dari Palu, Sulawesi Tengah ke Makassar sempat dihentikan sementara karena mereka ingin naik ke Hercules.

Namun, saat ini pesawat Hercules tersebut sudah dapat terbang kembali. “Ia itu mau naik Hercules ada 3.000 sampai 5.000 orang. Tapi sudah beres, Hercules sudah bisa terbang,” ujarnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) ini menjelaskan pihaknya tidak melarang korban gempa Palu untuk diangkut menggunakan Hercules, namun karena keterbatasan pesawat, maka petugas memprioritaskan korban gempa-tsunami yang terluka.

“Mereka kan ingin naik semuanya, Hercules cuma 2. Kita ngantre, ya kan. Hercules tetap jalan dua, tapi nanti kita prioritaskan untuk yang sakit,” kata Hadi.

Kondisi saat ini sudah aman, bahkan dirinya berencana kembali ke Palu, Selasa 2 Oktober (hari ini), bersama Menko Polhukam Wiranto. “Sudah saya laporkan ke Pak Menko (Wiranto) tadi sudah beres. Enggak ada masalah, aman. Besok saya ke sana sama Pak Menko juga,” katanya.

Ia menambahkan perbaikan fasilitas di Palu dan Donggala akan terus dilakukan. “Tenang, besok (hari ini) sama Pak Menko udah memastikan sesuai perintah Pak Presiden. Listrik sudah mulai jalan, semuanya fasilitas sudah kita dukung. Bantuan terus kita berikan,” tutur Panglima TNI itu.

Sementara Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengakui hingga hari ini banyak sekali masyarakat yang berbondong-bondong ingin dievakuasi keluar Palu.

“Memang banyak sampai membuat pesawat tidak bisa take-off (mengangkut penumpang). Makanya kami atur,” katanya saat konferensi pers perkembangan gempa dan tsunami Sulteng, di Jakarta Timur, Senin (1/10).

Kendati demikian, kata dia, meski penerbangan komersial sudah diaktifkan namun jumlahnya masih terbatas. Oleh karena itu, dia menambahkan, aparat pengaman seperti tentara nasional Indonesia (TNI) dan polri dikerahkan untuk mengamankan masyarakat yang ingin keluar wilayah Palu.

Pihaknya memahami psikologis masyarakat setempat yang merasa trauma karena mendapat bencana apalagi kondisi logistik terbatas sehingga ingin segera keluar Palu. “Jadi ada dinamika-dinamika ribuan orang seperti itu (berebut keluar Palu),” ujarnya.

1.425 Tahanan Lapas Kabur

Gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah berdampak ke banyak hal. Salah satunya soal situasi di lembaga pemasyarakatan. Ribuan tahanan hilang.

Menurut Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami, ada ribuan warga binaan yang melarikan (menyelamatkan) diri pascabencana.
“Isi total (warga binaan) di Sulteng 3.220, mudah-mudahan ini benar, mohon maaf karena bergerak terus datanya sekarang 1.795. Jadi, yang enggak berada di tempat 1.425 orang,” ujar dia di Jakarta, Senin (1/10).

Dia memaparkan, untuk Lapas Palu, memiliki kapasitas 210 orang dan memiliki isi 581 orang. Sementara hingga pagi ini, sisanya ada 66 orang saja.

Kemudian, di Rutan Palu memiliki kapasitas 120 orang dengan isi 463. Sisa pagi ini hanya ada 63 orang. Lalu Lapas Perempuan yang berisi 84 orang kini tinggal sembilan.

“Lalu di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) kapasitas 100 isi 29, saat ini tinggal lima orang,” tambah dia.

Sri Puguh menambahkan, kini anggota mulai mencari dan mendata ulang warga binaan. “Mudah-mudahan kami bisa pastikan kembali (data-data warga binaan),” pungkasnya. (*)


div>