JUMAT , 15 DESEMBER 2017

Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

Reporter:

Editor:

Nunu

Jumat , 08 Desember 2017 11:08
Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/(IST)

Washington, RAKYATSULSEL.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu 6 Desember 2017. Trump pun mengumumkan rencananya untuk memindahkan Kedutaan Besar AS disana.

“Hari ini akhirnya kami menyadari hal yang nyata. Bahwa Jerusalem adalah Ibu Kota Israel. Ini tidak lebih dari sekedar pengakuan akan kenyataan dan tepat dilakukan,” kata Trump di Gedung Putih seperti dilansir CNN, Kamis 7 Desember 2017.

Keputusan Trump berbalik dengan kebijakan luar negeri AS yang menolak pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebelum konflik Israel-Palestina dapat diselesaikan.

“Hari ini saya sampaikan,” ujar Trump. Merujuk pada janji kampanyenya Trump. Padahal keputusan tersebut bisa menghambat proses perdamaian dan meningkatkan risiko keamanan di wilayah tersebut.

Sadar keputusannya mendapatkan penolakan keras dari para pemimpin regional, Trump menggarisbawahi tetap berkomitmen untuk membantu memfasilitasi kesepakatan damai yang dapat diterima Israel dan Palestina.

Pengumuman Trump ini disambut hangat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bergabung dengan AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

“Keputusan Presiden merupakan langkah penting menuju perdamaian. Karena tidak ada perdamaian tanpa memasukkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,” ujar Netanyahu.

Sementara di sisi lain, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengutuk dan menolak keputusan Trump. Dalam pidatonya di televisi, ia mengatakan bahwa tindakan tersebut akan memicu kelompok ekstrimis melakukan aksinya.

“Ini akan membahayakan seluruh wilayah. Dan akan membawa kita ke dalam perang yang tidak akan pernah berakhir,” tegasnya.

Kepala perunding Palestina Saeb Erakat mengatakan bahwa keputusan Trump justru mengesampingkan AS memainkan peran dalam proses perdamaian. “Trump baru saja menghancurkan kebijakan dua negara,” kata dia.


div>