JUMAT , 20 JULI 2018

TURN BACK CRIME

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 20 Februari 2016 11:35
TURN BACK CRIME

Haidar Majid

Pada detil-detil kejadian ‘ledakan thamrin’ beberapa waktu yang lalu, yang diunggah dan ditayangkan di banyak media, terlihat beberapa lelaki yang mengenakan polo shirt berwarna biru bertuliskan “turn back crime” di dada kanan. Mereka tak lain adalah polisi yang sedang berupaya menumpas aksi terorisme, agar aksi mereka bisa segera berakhir dan tidak menimbulkan korban yang signifikan.

Upaya para polisi itu berhasil. Aksi teroris di stop dalam tempo yang tidak terlalu lama dengan jumlah korban minim. Keberanian para polisi untuk mengisolir pergerakan teroris, dengan cara berhadap-hadapan dengan maut, membuat kita menjadi kagum. Respon publik, khususnya di dunia maya luar biasa. Begitu banyak akun di berbagai media sosial yang mengunggah foto atau gambar para polisi, baik orang per orang ataupun beberapa orang yang sedang menjalankan aksi heroik.

Tentu tidak sedikit yang penasaran dan bertanya-tanya, mengapa banyak dari polisi kita yang hari itu menggunakan polo shirt warna biru dengan tulisan “turn back crime”. Saya termasuk salah seorang diantaranya; apalagi karena belakangan, hampir setiap hari, baju ala turn back crime itu semakin banyak terlihat di layar kaca, setiap kali polisi kita melakukan tugas-tugasnya dalam menumpas kejahatan.

Tak afdol rasanya jika rasa penasaran itu tidak terjawab. Saya berinisiatif bertanya ke ‘paman google’, dan saya pun menemukan jawabannya. Ternyata “turn back crime” itu merupakan program interpol tahun 2014, dimana jaringan kepolisian negara-negara se dunia ini mengkampanyekan kesadaran masyarakat untuk sama-sama melawan kejahatan teroganisir di sekeliling mereka.

Jika seperti itu makna “turn back crime”, berarti seluruh masyarakat seharusnya mendukung dan ikut berkontribusi dalam kegiatan kampanye tersebut. Mengambil bagian dalam penyadaran, betapa pentingnya arti “hidup aman”, karena dengan hidup aman akan menghadirkan kenyamanan dan dengan hidup nyaman akan melahirkan ide-ide kreatif dan dengan ide-ide kreatif akan lahir manusia-manusia kreatif yang akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.

Setelah mendapat penjelasan dari ‘paman google’, timbul rasa penasaran berikutnya, bagaimana atau dimana saya bisa memperoleh polo tshirt seperti itu. Maksudnya, supaya saya juga bisa mengenakannya dan mengambil bagian dari kampanye itu. Bukankah polo shirt seperti itu sangat langka dan tidak ditemukan di banyak tempat.

Rasa penasaran saya terjawab. Tanpa disangka, seorang teman saya mengunggah fotonya yang mengenakan polo shirt bertuliskan “turn back crime”. Saya tanya, apakah saya juga bisa memperoleh baju yang sama, dan jawaban beliau “bisa”. Singkat cerita, dengan senang hati, teman saya itu membawakan saya baju yang dimaksud.

Setelah saya mengenakan baju tersebut, ada semacam kebanggaan tersendiri yang saya rasakan. Ikut berkampanye, mengajak seluruh kalangan bekerjasama dalam meminimalisir potensi kejahatan adalah langkah strategis yang patut dilakukan. Baik perseorangan ataupun dalam bentuk komunitas. Tidak memberi ruang untuk hadirnya aksi kejahatan adalah ikhtiar protektif yang seyogyanya menjadi tanggungjawab semua pihak dan tidak semata-mata dibebankan kepada pihak kepolisian.

Disisi lain, kampanye seperti ini juga akan memberi rasa percaya diri kepada polisi kita karena langkah-langkah mereka dalam menumpas kejahatan untuk menjamin rasa aman masyarakat, mendapat dukungan. Gairah profesionalisme dan optimalisasi dalam mengemban tugas sebagai pengayom masyarakat akan terus bergelora.

Dengan sendirinya, jika masyarakat dan polisi bisa berkolaborasi, bekerjasama membangun kekuatan, maka gerak langkah penjahat yang bermaksud melakukan tindak kejahatan bisa urung, terisolir dan tak bisa berbuat apa-apa. Dan jika itu semua bisa berlangsung secara konsisten, maka kita akan merasakan nikmatnya hidup aman, tenteram dan damai. Turn Back Crime !. (*)


Tag
div>