SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Tut Wuri Handayani

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 26 September 2015 09:50
Tut Wuri Handayani

Haidar Majid

Oleh: Haidar Majid
Politisi

Apa yang dikicaukan oleh Della Delila, member JKT 48 di akun twitternya, tentu membuat kita sedikit terperanjat. Bagaimana tidak, “Tut Wuri Handayani” sebagai semboyan yang sangat familiar di kalangan pelajar dan dunia pendidikan, diartikan oleh Della sebagai “walaupun beda tetapi tetap satu”.

Meski bermaksud baik, kicauan ala Della ini menjadi semacam undangan bagi para haters untuk langsung tancap gas. Della harus menerima konsekuensinya, tak bisa menghindar dari cacian, makian dan cibiran. Selain karena ke-selebriti-an-nya, Della juga dianggap sangat fatal membuat penafsiran keliru terhadap tut wuri handayani.

“Walaupun berbeda tetapi tetap satu”, sebagaimana diketahui, adalah arti dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, sedangkan “Tut Wuri Handayani” sendiri dalam arti bahasanya adalah “dari belakang, memberi dorongan atau dukungan”. Disini jelas terlihat kekeliruan seorang Della.

Dalam perspektif saya, mungkin kesalahan dalam “mengartikan” sesuatu, tidaklah semata-mata menjadi milik Della seorang. Dan kesalahan mengartikan itu tidak saja dilihat sebagai kesalahan dalam bahasa atau penafsiran belaka. Lebih jauh, bukan tidak mungkin, memang sedang ada masalah dalam proses “transformasi nilai” di dunia pendidikan kita.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah unggahan di YouTube membuat kita miris. Tayangan dengan judul “duel anak sekolah”, berdurasi 2 menit 53 detik itu, memperlihatkan 2 orang pelajar perempuan sedang berkelahi, berjibaku dan saling pukul.

Anehnya, tidak seorang pun dari temannya yang menyaksikan kejadian tersebut, melerai. Sebaliknya, mereka justru mengambil peran sebagai ‘supporter’, sekaligus mengabadikan kejadian itu melalui handphone mereka.

Sambil berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan, teman-teman dari dua pelajar perempuan yang duel itu tak henti-hentinya meminta supaya jangan ada seorang pun yang menghentikan perkelahian itu, padahal keduanya telah saling menyakiti, berguling-guling di tanah layaknya dua ekor ayam yang sedang di adu.

Fantastis, duel dua pelajar perempuan itu bukanlah satu-satunya yang menghiasi unggahan di YouTube. Begitu banyak kejadian yang sama dengan pola prilaku yang sama.

Pelajar yang seharusnya menimba ilmu secara sungguh-sungguh di bangku sekolah, ternyata menghabiskan waktunya untuk berkelahi, saling menghujat dan menyakiti.

Belum lagi jika kita melihat data statistik pelaku begal yang mayoritas melibatkan anak dibawah umur, dengan status pelajar. Tentu hal ini menjadi semacam “warning” bagi dunia pendidikan kita, yang selama ini menjadi tumpuan dalam membentuk karakter dan perilaku pelajar, selain memberi asupan ilmu-ilmu formal.

Kita tentu tidak sedang menyalahkan sekolah sebagai sebuah “institusi pendidikan” dan pendidiknya. Peran keluarga dan orang tua juga memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam terbentuknya karakter dan perilaku seorang pelajar.

Waktu di sekolah hanya sekian jam dan lebih banyak berkutat pada pelajaran-pelajaran yang tidak bersinggungan langsung dengan etika, norma dan budaya; sementara waktu bersama keluarga, secara kwantitatif lebih banyak, harusnya diisi dengan pelajaran-pelajaran soal etika, norma dan agama.

Hanya saja di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa seorang pendidik, seyogyanya menjadi basis utama dalam pembentukan karakter dan perilaku pelajar.

Hal ini dikarenakan, dalam dunia pendidikan, kurikulum menyediakan ruang bagi terciptanya karakter dan perilaku pelajar yang santun, terhormat dan bermartabat; seperti pelajaran tentang norma, budaya dan agama.

Seorang pendidik dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, punya kesempatan yang besar untuk membangun “mindset” kepada pelajar, bagaimana menjadi seorang pelajar yang santun, terhormat dan bermartabat.

Begitu strategisnya peran seorang pendidik, sehingga Ki Hajar Dewantoro, memampatkan posisi pendidik sebagai “Tut Wuri Handayani”, sebagai pem-back-up, motivator, dinamisator dan navigator. Seorang pendidik berfungsi sebagai pendorong, pembangkit dan pengarah bagi gairah, potensi, karakter dan perilaku pelajar.

Ketika kali pertama saya membaca kicauan Della JKT 48 yang keliru mengartikan semboyan “Tut Wuri Handayani”, saya tidak serta merta ikut dalam barisan orang-orang yang menyalahkannya. Saya justru berfikir, jangan-jangan Della sedang bertanya, kemana gerangan “Tut Wuri Handayani” itu?


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>