SENIN , 18 JUNI 2018

Ujian Bukan Melemahkan, Tapi Justru Menguatkan

Reporter:

Erna Rasyid Taufan

Editor:

Nunu

Minggu , 20 Mei 2018 21:42
Ujian Bukan Melemahkan, Tapi Justru Menguatkan

int

Oleh: Hj Erna Rasyid Taufan, SE., M.Pd.

Semakin kuat iman seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan menerpanya. Ujian yang datang silih berganti, bahkan datang secara bertubi-tubi, membuat kita akan semakin kuat.

Mungkin di luar sana, orang akan mengira ujian itu justru melemahkan, tapi tidak untuk saya dan keluarga. Ujian ini justru membuat kami kuat dan semakin tawakkal kepadaNya.

Ujian berupa hoax, fitnah dan pendzaliman kami sikapi dengan sabar.

Mungkin sebagian orang berpikir, kok kami tidak terganggu sedikit pun? Jawabnya, karena kami berharap ujian ini akan meninggikan derajat kami di sisiNya, bukan derajat dunia semata, tetapi di mata Sang Khalik.

Ujian yang menerpa Bapak, (suami saya, Taufan Pawe) bahkan saat kami sedang beribadah Umrah dan difitnah dijemput paksa justru membuat kami tegar. Saya berterima kasih kepada Allah atas ujian ini, dan kami tidak menyalahkan siapapun.

Sangat keliru jikalau orang beranggapan kami jantuh, justru kita bersyukur. Lawanlah yang memberikan kontribusi besar membuat kami tegar, memberikan kemenangan sesungguhnya, kemenangan hakiki atas derajat keimanan kami yang bertambah.

Dulu waktu saya kecil, Bapak saya berpesan dan pesannya ini tertera dalam Al-Qur’an, bahwa jikalau kamu bangun pagi di setiap hari, maka merenunglah sejenak, hayati dua hal yang akan terjadi saat kamu bangun, yaitu BERSEDIH atau BAHAGIA.

Dua hal itu adalah siklus yang akan mengiringi kehidupan kita, tanpa salah satunya maka akan hampa. Namun Bapak saya kembali berpesan, dari dua hal yang akan kamu temui itu, maka dua hal pula yang akan menyikapinya. Maka, kamu akan siap menghadapinya. Dua hal yang dimaksud adalah SABAR dan SYUKUR.

Bapak saya melanjutkan, jika kamu menemui KESEDIHAN maka bijaklah menyikapinya dengan SABAR. Jika kamu BAHAGIA, maka timpali dengan SYUKUR.

Jika siklus itu kita imbangi secara bijak, maka tak ada kata LEMAH dalam kamus kepribadianmu, yang ada kamu akan selalu kuat dalam situasi apapun, termasuk bersedih atau bahagia.

Dalam Alqur’an, ujian diberikan untuk instrospeksi diri. Ada beberapa hikmah ujian, apakah kita akan naik ke tingkat lebih tingi, penggugur dosa, ataukah sebagai siksa. Namun saya berpikir semoga kami bukan kategori orang yang mendapatkan siksa dunia, karena orang yang mendapatkan siksa dunia dan akhirat, adalah orang yang suka memfitnah dan mendzalimi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS Al-Baqarah: 19)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

“Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS Al-Baqarah: 217)

Sungguh fitnah itu besar bahayanya, bisa membuat orang berperang. Itulah sebabnya, kami dari Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Parepare telah memprakarsai program Jalan Sakinah yang kita laksanakan sebelum Ramadan. Dengan harapan, kita mengajak orang-orang untuk menghentikan “perang” di bulan suci ramadan.

Berperang tak hanya kontak fisik. Menurut hemat saya sejatinya perang di media sosial adalah perang di era milenium yang dampaknya justru lebih besar. Dalam al-qur’an sangat dilarang “berperang” di bulan ramadan. Mari kita hargai tamu suci kita yang datangnya hanya sekali dalam setahun ini.

Mengakhiri tulisan pertama saya dalam tema Ramadan bersama Erna Rasyid Taufan, saya mengajak sekalian mari menjaga ukhuwah Islamiyah. Hindari perang di antara kita. Hindari segala hal yang bisa memecahkan persaudaraan.

Mari kita manfaatkan momen ramadan ini untuk semakin tawakkal kepada-Nya. Jika kita diuji, jadikan ujian sebagai penguat dengan kesabaran. Innallaha Ma’ashobirin. Sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(*)


div>