JUMAT , 19 OKTOBER 2018

UMI Siapkan Entreprenur Muda yang Profesional

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Senin , 30 Juli 2018 15:04
UMI Siapkan Entreprenur Muda yang Profesional

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Menanamkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa sejak dini merupakan salah satu program unggulan Rektor baru UMI Prof Dr H Basri Modding yang dilantik awal Juli 2018.

Hal itu diungkapkan Prof Basri Modding, mengawali bincang-bincang dalam coffee morning/silaturrahmi Pimpinan Universitas Muslim Indonesia dengan Ketua IKA UMI Pusat, Ir H Zulkarnain Arief, yang juga Ketua Kadin Sulsel di ruang rapat Rektor, Menara UMI, Senin (31/7).

Hadir dalam coffee morning tersebut, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, Sekretaris Yayasan Wakaf UMI, Ir H Lambang Basri, Wakil Rektor Dr IR HAnafi Ashad, Prof Dr H Salim Basalamah, Prof Dr H Laode Husein, Prof Dr Ir Hatta Fattah, Ketua LPMD, Prof Dr H Ahmad Gani, Ketua LP2S, Prof Dr H Syahnur Said, Ketua LPM, Prof Dr H Abdul Makhsud,Kepala Pusat Inkubasi Bisnis Indonesia, Dr Zainuddn Rahman dan Kepala Humas UMI, Nurjannah Abna.

Sementara pengurus IKA UMI yang hadir diantaranya Herman Heizer yang juga Ketua HIPMI Sulsel, Jamaluddin Jafar (Anggota DPRD Sulsel Komisi B), A Dala Atikam, dan Andi Rista Tanrasula.

Rektor UMI, Prof Dr H Basri Modding mengatakan, perguruan tinggi di era distruption ini menghadapi tantangan yang cukup berat, tidak hanya melaksanakan pengajaran, penelitian dan pengabdian, tapi semua aspek tersebut diukur dengan outcomenya.

“Dulu image berusaha belum menjadi hal yang familiar dikalangan mahasiswa. Meskipun diantara mereka sudah ada yang melakoninya meskipun masih terbatas. Untuk itu, dalam pengembangan UMI ke depan bagaimana menyiapkan mahasiswa UMI menjadi enterpenur yang professional, tidak gagap dengan masa depannya kelak, maka coffee morning ini didesain untuk mendapat masukan dari ketua IKA UMI yang juga Ketua Kadin Sulsel dan berbagai kapasitas yang dimiliki,” ujar mantan Direktur PPs UMI ini.

Sementara itu Zulkarnain menapresiasi silaturrahmi yang didesain dengan coffee morning ini, dan berharap UMI ke depan menjadi sumber ide dan gagasan strategis dalam pengembangan bangsa ke depan khususnya di kawasan Indonesia Timur.

“UMI tidak berperan dalam  ranah politik, tetapi pada bidang dakwah kebangsaan, memberikan pencerahan kemana arah bangsa ini ke depan,” jelasnya.

Herman Heizer menambahkan, hasil penelitian yang dilakukan dikalangan mahasiswa, ditemukan  56 persen ingin menjadi pengusaha, 32 persen menjadi pegawai. Namun realitas dan harapan berbanding terbalik, hanya 3 persen yang menjadi pengusaha.

“Penyebabnya setelah ditelurusi bukan masalah modal, tapi mental mahasiswa menjadi pengusaha. Karena itu, menjadi catatan kita, bagaimana menyiapkan secara dini mereka untuk berani menjadi pengusaha. Mungkin mereka beranggapan sulit menjadi pengusaha, tapi kalau kita belajar dan menyiapkan mereka sejak dini, memberikan pendampingan, pengalaman dan keterampilan, mereka lebih siap menjadi entrepreneur professional,” jelas Herman Heizer.

Sementara itu, ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly mengatakan, mahasiswa selaku kaum intelek dan agen perubahan dituntut tidak hanya menjadi insan mandiri dengan keunggulan keilmuwan yang dikuasainya namun juga dituntut menjadi pelaku perubahan.

“Salah satu domain yang perlu disiapkan sejak dini menjadi enterpreneur.
Perguruan tinggi melahirkan ide gagasan dan disinergikan dengan industri  dalam pengembangnnya. Tidak ada perbedaan kurikulum Amerika dengan kita di Indonesia, hanya metode pembelajaran dengan menyiapkan mahasiswa untuk siap berkompetesi telah didesain sejak mereka di tahun ketiga. Mereka telah disiapkan dan dikawal untuk  peran apa yang mereka akan lakukan ke depan,” singkatnya. (*)


Tag
  • UMI Makassar
  •  
    div>