SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

UMI Skorsing Dua Mahasiswa, Ada Apa Yah ?

Reporter:

Suryad Maswatu

Editor:

asharabdullah

Senin , 12 Maret 2018 17:30
UMI Skorsing Dua Mahasiswa, Ada Apa Yah ?

UMI Makassar saat melakukan konferensi pers, Senin (12/3). (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, melakukan klarifikasi mengenai skorsing dua Mahasiswa Fakultas Hukum (UMI) sejak pekan lalu.

Dekan Fakultas Hukum UMI Makassar, Dr H Muh Syarif NH mengatakan, skorsing sesuai Presudur statuts fakultas karena, mahasiswa melakukan tindakan gangguan yang merugikan proses belajar mengajar.

Dia menambahkan, dalam aturan akademi UMI ada beberapa tingkatan pelanggaran, sehingga sanksi juga disesuaikan yakni ringan, sedang hingga sanksi berat.

“Demo bagian dari sanksi ringan. sesuai mekanisme kami jalankan, bagi kami skorsing ini sudah sesuai aturan kampus, dimana mahasiswa melakukan tindakan yang mengganggu aktifitas belajar mengajar,” ujarnya.

Adapun dua mahasiswa Fakultas Hukum yang di skorsing adalah Fikram Maulana angkatan 2014 dan Andi Fajar angkatan 2015 yang aktor dibalik mobilisasi massa aksi.

Ia menjelaskan, salah satu poin yang menjadi dalil sehingga diberikan sanksi kepada mahasiswa adalah tuntutan mahasiswa yang dianggap diluar dari kebiasaan.

Lanjut dia, tuntutan mahasiswa yang tidak bisa dipenuhi oleh fakultas adalah permintaan transparansi anggaran. Selain itu, tuntutan mahasiswa selama dua hari dengan tuntutan yang sama. Padahal sudah dilakukan audiens antara pihak fakultas dan mahasiswa bersangkutan.

“Alasan kami skorsing karena tuntutan mahasiswa diluar presudur. Bahkan tuntutan mau transparansi anggaran. Padahal ini pertanggungjawaban ke Universitas dan yayasan, bukan ke mahasiswa,” tuturnya.

Menurutnya, tuntutan mahasiswa berkaitan dana pengembangan mahasiswa. Sedangkan di tingkat Fakultas tak ada dana seperti itu.

Ia mengaku, persoalan dana sangat sensitif. Bahkan pertanggungjawaban melalui satu pintu sehingga tak ada permainan di dalamnya.

“Ini kan lucu, jika tuntutan kami salagunakan data kemahaiswaan. Padahal yang kami gunakan peruntukan pengembangan pembelajaran,” katanya.

Dua mahasiswa yang diskorsing, kata Syarif, adalah dinilai provokasi sehingga diberikan sanksi. Dia menambahkan, masih ada juga salah satu mahasiswa yang orasi mengajak mahasiswa lain sehingga sementara di deteksi.

“Baru dua mahasiswa kami anggap provokasi. Mengajak mahasiswa demo, tinggal satu lagi kami cari, kalau dapat Diskorsing,” pungkas Syarif. (*)


div>