RABU , 15 AGUSTUS 2018

Universitas Fajar Resmi Punya S-2 Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan

Reporter:

Iskanto

Editor:

Lukman

Kamis , 09 Agustus 2018 10:20
Universitas Fajar Resmi Punya S-2 Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan

Rektor Universitas Fajar, Sadly A Djabbar didampingi Chairman Fajar Group, Alwi Hamu melakukan pemotongan saat ramah tamah "Satu Dekade Universitas Fajar dan Launching Program Magister Rekayasa Infrastruktur" di Kampus Universitas Fajar, Jl Prof Basallamah Makassar, Rabu (8/8).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Universitas Fajar (Unifa) resmi punya pendidikan magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan. Program magister baru ini menjadi kado ulang tahun Unifa ke-10 yang jatuh 8 Agustus.

Apalagi, Magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan merupakan program S-2 pertama di Indonesia Timur. Sebelumnya Unifa telah memiliki 2 program magister lainnya yakni Ilmu Komunikasi dan Manajemen Stratejik.

Kampus yang berdiri sejak 8 Agustus 2008 silam ini mampu berkembang begitu cepat. Unifa saat ini telah mengasuh 12 program studi ditingkatan Strata Satu (S1). Bukan cuma itu, kampus yang dikenal sebagai kampus entreprenur ini telah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana dengan membangun gedung baru yang berlantai sembilan.

Ketua Badan Pembina Unifa, HM Alwi Hamu mengatakan, mahasiswa harus mampu mengimbangi perkembangan teknologi yang semakin pesat dengan pendidikan yang berkualitas.

“Di era teknologi saat ini, Unifa sebagai kampus dibawah naungan Fajar Group yang semakin pesat dalam kemajuanya harus mampu memanfaatkan teknologi-teknologi saat ini dalam dunia pendidikan. Begitupun mahasiswa yang harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” kata Alwi Hamu.

Karena menurutnya, pendidikan adalah aset yang tidak ternilai harganya. Maka dari itu Alwi Hamu sangat memperhatikan dunia pendidikan sebagai wadah menciptakan karakter bangsa dan negara yang memiliki daya saing yang baik.

Sementara itu, Rektor Unifa, Prof Sadly Abdul Djabar banyak bercerita mengenai masa delapan tahun lalu, saat pertama kali ia diajak untuk mengelola perguruan tinggi. Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Badan Pembina Unifa, HM Alwi Hamu.

Ia mengaku, kata-kata yang disampaikan Alwi Hamu kepada dirinya, membuatnya terdorong untuk ikut mengembangkan Unifa, sampai sekarang ini. Dimana sebelum Prof Sadly, Unifa yang awalnya bernama Stikom dipimpin oleh Prof Halide.

“Pak Alwi sampaikan, beliau punya banyak usaha ada media, hotel, dan beberapa usaha lain. Khusus untuk lembaga pendidikan, bukan untuk lahan bisnis biarlah yang lain untuk bisnis, tetapi lembaga pendidikan pak Alwi jadikan sebagai tabungan akhirat,” paparnya.

Hal itulah yang membuat Prof Sadly tergerak untuk ikut mengelola Unifa dibawah naungan Fajar Group. Saat pertama kali memimpin, dia mengaku bahwa sangat banyak hal yang mesti dibenahi untuk membuat Unifa lebih eksis kedepannya.

Mulai dari sumber daya, yang awalnya kampus ini belum punya pendidik bergelar doktor. Hingga memiliki puluhan tenaga pendidik bergelar doktor. “Sekarang, kita sudah memiliki 20 doktor. Bahkan sekarang ada 22 calon doktor yang disekolahkan di beberapa kampus,” jelasnya.

Selain itu dari 12 program studi, dulunya hanya dua program studi saja yang punya akreditasi B. Hanya dalam kurun tiga tahun, Unifa memiliki 10 program studi yang terakreditasi B.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto yang turut hadir dalam kegiatan tersebut berharap di momen 10 tahun Unifa benar-benar bisa menjadi fajar baru untuk Indonesia. Selain itu juga bisa lebih bersinergi dengan program pemerintah khususnya di Kota Makassar.

Danny mengatakan setiap program inovasi yang telah dijalankan pemerintah kota selalu berdasar pada research dan menggunakan data-data akurat secara real time.
“Kami pemerintah kota memberikan ruang bagi universitas-universitas di Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar untuk menciptakan research terhadap program pemerintah” terangnya.

Beberapa inovasi unggulan yang masuk dalam top 15 inovasi di dunia seperti home care, atau pun inovasi yang baru saja diresmikan oleh pemerintah kota berupa pendaftaran akte kelahiran dan akte kematian secara online yang dinamakan kucata’ki, butuh pengawalan kampus, seperti Universitas Fajar.

Harapannya seluruh universitas di Kota Makassar dapat menciptakan inovasi-inovasi demi kemajuan kota ini. “Tidak akan maju sebuah kota tanpa dukungan universitas,” tegas Danny. (*)


div>