MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Valentino Rossi Desak Reshuffle Pimpinan Yamaha

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Jumat , 20 Juli 2018 11:58
Valentino Rossi Desak Reshuffle Pimpinan Yamaha

int

IWATA, RAKYATSULSEL.COM – Sejak 2016, rider Movistar Yamaha Valentino Rossi sudah mengeluh bahwa motornya tak mampu bersaing dengan Honda dalam perebutan gelar juara MotoGP.

Sampai saat ini solusi belum juga ditemukan. Saking gemasnya dengan situasi tersebut kabarnya juara dunia sembilan kali tersebut kini mulai mendesak adanya reshuffle pada jajaran pertinggi tim Movistar Yamaha.

Hingga seri Jerman pekan lalu, Yamaha sudah 18 bulan mengalami paceklik kemenangan. Ini menjadi durasi terpanjang tim pabrikan berlogo garpu tala tersebut mengarungi persaingan di kelas premium tanpa berdiri ke podium teratas.

Akibat buruknya performa tim tersebut sejumlah media asing melansir bahwa Rossi sedang menggalang kekuatan untuk mendepak Lin Jarvis dari posisi managing director Movistar Yamaha.

Figur Rossi memang cukup sentral di tim tersebut. Sehingga, dalam banyak pengambilan kebijakan The Doctor ikut memengaruhi. Dia bahkan sudah memiliki nama yang diajukan kepada Yamaha Jepang untuk menggantikan Jarvis.

Dia adalah William Favero. Posisinya saat ini adalah direktur komunikasi Movistar Yamaha. Sosoknya dikenal sangat dekat dengan klan Tavullia (kampung halaman Rossi) di paddock MotoGP.

”Rossi sudah dua kali mengirimkan pesan langsung kepada jajaran bos Yamaha di Iwata terkait hal ini,” tulis seorang jurnalis senior MotoGP Diego Lacave dikutip Motorcycle News.

Rossi sendiri mengatakan tak pernah bosan mengingatkan jajaran bos tim agar segera menyelesaikan masalah akselerasi pada YZR-M1. Misalnya, dengan meminta Yamaha berinvestasi lebih besar dalam hal sistem elektronik motor. ”Sampai kalau ketemu saya di garasi, mereka langsung kabur (karena terlalu sering ditagih),” seloroh Rossi lalu tertawa usai balapan GP Jerman.

Seperti diketahui masalah yang dihadapi Yamaha muncul setelah ada kebijakan penyeragaman ECU pada 2016. Sejak saat itu tim pabrikan tidak bisa mengembangkan ECU-nya sendiri. Kebijakan tersebut dirancang agar persaingan antara tim pabrikan dan independen semakin merata. Situasinya semakin memburuk ketika pemasok tunggal ban MotoGP beralih dari Bridgestone ke Michelin.

Sementara itu, kesuksesan Rossi di GP Jerman memunculkan nama Jonas Folger. Rossi mengakui, podium kedua yang diraihnya pada balapan tersebut didapat berkat mencontek balapan pembalap Jerman itu tahun lalu. ”Saya meniru semuanya. Mentalnya, setingan motornya, sampai jalur balapnya,” ungkap rider 39 tahun tersebut.

Finis runner up menjadi hasil terbaik Yamaha sepanjang musim 2018. Kesuksesan Rossi itu membuat nama Folger muncul sebagai calon pembalap uji Yamaha untuk musim depan. Sebagai pembalap uji, Folger akan ikut mengembangkan M1 untuk tim pabrikan. Dia juga dimungkinkan tampil sebagai wildcard. (cak/jpnn)


div>