SELASA , 24 APRIL 2018

Verifikasi Capres 4L

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 07 September 2012 13:03

KATANYA masyarakat Indonesia hari ini punya kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan. Model kepemimpinannya selalu stereotip kepemimpinan Barat.

Fisik dan citra diri dianggap lebih penting, sehingga kalau lagi-lagi ia harus impressive and charming, meski keduanya suka mengecoh, sehingga ibarat handphone cuma casing-nya doang yang bagus.

Untuk mengatasi kesulitan ini, konon katanya pernah ada seorang politisi yang mengusulkan supaya dicari saja ahli genetika yang bisa memindahkan otak pemimpin Barat ke dalam otak pemimpin Indonesia.

Cukup otaknya yang dipindahkan, sebab badannya sudah impressive and charming sesuai stereotip Barat.

Yang dimaksud dalam anekdot itu adalah mindset para elit negeri ini yang mesti diubah, yaitu mindset priyayi, yang feodalistik, yang bersikap normatif terhadap keadaan yang tidak normal, karena memang salah satu ciri sifat priyayi ialah “apa yang patut bagi dirinya bukan apa yang seharusnya”.

Sejak zaman raja-raja Nusantara tempo dulu, golongan priyayi (golongan elit) memang merupakan golongan penghambat perubahan, maka akibatnya rakyat tidak pernah punya kesempatan naik kelas.

Golongan priyayi adalah sahabat raja secara langsung. Priyayi sendiri berasal dari kata “yayi”, yang berarti adik raja. Rakyat biasa bukan sahabat raja, melainkan harus tunduk dan takluk kepada para pejabat (para priyayi atau para elit) yang ditunjuk oleh raja.

Pada umumnya raja memang tidak terlalu menghiraukan rakyat, sebab hanya golongan priyayi yang masuk perhitungan raja. Sedangkan priyayi menganggap rakyat sebagai taklukan, dan karena itu mereka merasa memiliki hak penuh atas rakyat yang menjadi bawahannya.

Para elit Indonesia hari ini yang merupakan para priyayi baru fundamentalis neolib tentu bukanlah golongan revolusioner karena mindest-nya sulit fokus terhadap tanggung jawab dalam mengabdi kepada rakyat.

Karena masyarakat Indonesia hari ini dikatakan punya kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan, dan model kepemimpinannya selalu stereotip kepemimpinan Barat.

Maka para capres, terutama para capres wajah lama alias 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) yang nama-namanya kini sudah beredar secara marak di media massa, umumnya berprilaku imitatif, tidak orisinal, yaitu mengandalkan pencitraan, prilaku yang dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai outwit alias mengecoh, atau hoodwink, menipu.

Yang dibutuhkan bangsa ini kedepan bukan lagi sosok capres 4L atau partai-partai politik yang berciri fans club, yang bertumpu kepada hal-hal yang bersifat fisik dan popularitas.

Bangsa dan negeri ini butuh sistem yang kuat dan hebat. Jadi, paradigmanya adalah memperkuat sistem, bukan memperkuat figur yang seolah-olah kuat atau dikesankan kuat untuk memimpin bangsa dan negara ini. Karenanya, para capres 4 L juga perlu diverifikasi. (*)


Tag
div>