JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Wajah Lama, Duet Baru

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 27 Maret 2017 09:42
Wajah Lama, Duet Baru

Ilustrasi. Doc. RakyatSulsel

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Kontestasi politik jelang Pilgub makin terasa, Nurdin Halid – Aziz Qahhar Mudzakkar dipastikan berduet.

Keduanya bukan kali pertama bertarung di ajang politik pilgub. NH pada Pilgub 2003 lalu sempat maju berpasangan dengan Iskandar Manji, melalui mekanisme pemilihan di DPRD. Kala itu terdapat tiga pasangan calon yakni Amin Syam – Syahrul Yasin Limpo, Aksa Mahmud – Malik Hambali dan Nurdin Halid – Iskandar Manji.

Namun NH kalah dengan 18 suara, sementara pasangan Amin Syam – SYL, yang terpilih kala itu mendapatkan 39 suara dukungan dewan. Sementara Aziz Qahhar tercatat sudah dua kali maju di Pilgub dan tiga periode menjabat sebagai anggota DPD RI. Pada Pilgub 2007 lalu Azis Qahhar Mudzakkar berpasangan Mubyl Handaling dengan meraup 786.792 suara. Pada Pilgub 2013 Aziz yang menjadi pendamping Ilham Arief Sirajuddin meraih 1.785.580 suara. Pileg 2014 Aziz melenggang ke DPD RI dengan jumlah 1.032.113 suara.

Berpaketnya Nurdin Halid- Aziz Qahhar Mudzakkar di Pilgub Sulsel 2018 dipastikan akan menambah alotnya persaingan memenangkan kontestasi tersebut. Disamping Nurdin Halid hampir pasti mengamankan tiket Golkar, kendali NH terhadap kepala daerah yang merupakan Ketua DPD II Golkar, bakal all out memenangkan duet ini.

Direktur Lembaga Konsultan Politik Nurani Starategic Nurmal Idrus mengatakan Pasangan Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar bisa saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing. Bukan tanpa alasan, kata Nurmal, kedua Figur ini memiliki potensi dan pengalaman politik yang cukup baik. “Pasangan ini bisa saling melengkapi. Saya menilai keduanya lebih banyak nilai plusnya. NH butuh Aziz untuk mendongkrak popularitas dan menghapus citra masa lalu. Sementara Aziz butuh NH untuk mengatasi kendala infrastruktur politik dan finansial,” ujarnya, Minggu (26/3).

Lanjutnya, sebagai Pasangan, kedua figur ini, memiliki popularitas yang sangat baik. Sehingga, kemungkinan akan menjadi ancaman besar untuk bakal calon lain yang saat ini masih dilematis, baik dalam menentukan paket maupun menggalang kekuatan parpol. Namun, dengan popularitas yang dimiliki kedua figur tersebut tentu juga tidak menutup kemungkinan adanya hal-hal yang perlu untuk dibenahi, terutama basis popularitas Aziz Kahar yang lebih mengarah ke umat islam, dimana akan menjadi persoalan untuk wilayah dengan basis masyarakat yang non Muslim.

“Menurut saya pasangan ini akan sangat mengancam bagi pasangan lain nantinya. Basis suara keduanya jelas. NH akan menguasai wilayah Bugis dan Aziz populer di wilayah Luwu. Mereka tinggal mengatasi kelemahan Aziz di basis non muslim. Tapi kelemahan itu bisa ditutupi NH dengan prinsip pluralisme dan kemajemukan yang selama ini dia terus kampanyekan,” jelas Nurmal.

Nurmal menjelaskan, yang menjadi kunci bagi pasangan Nurdin Halid dan Aziz Kahar adalah dengan kerjasama yang baik dalam saling menutupi kekurangan masing-masing. “Tentu akan saling melengkapi. Basis suara NH adalah wilayah bugis dan Aziz Kahar di wilayah Luwu,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Selain itu Jika menilik ke belakang, keduanya memang punya ambisi untuk bisa memenangkan Pilgub tahun depan, mengingat keduanya sama-sama pernah tersisihkan di kontestasi politik tersebut.

Menurut Nurmal, Pilihan NH pada Aziz sebenarnya bukanlah pilihan buruk, meski juga tak bisa dikatakan tak beresiko. Bukan pilihan buruk karena Aziz dikenal punya basis massa yang kuat dan loyal. Jika berpasangan dengan Aziz, maka sumbangan suaranya jelas, berkutat pada angka 800.000 hingga 1 Juta suara. Ketika Aziz menjadi pasangan Ilham Arief Sirajuddin di Pilgub Sulsel 2013, diyakini lebih dari setengah jumlah suara total pasangan ini adalah pasokan dari loyalis Aziz. Ketika itu keduanya menjadi pemenang kedua dengan torehan 1,8 juta suara.

Torehan itu fantastis karena keduanya sama sekali tak punya kendali langsung dengan para Bupati/Walikota.

Boleh jadi, jika berpasangan dengan Aziz, cerita akan lain bagi NH. Bersama IAS, Aziz nyaris saja menumbangkan incumbent SYL-Agus pada Pilgub sebelumnya. Suara mereka terpaut tipis tak lebih dari 10 persen. Padahal, ketika itu sebagai incumbent dan Ketua Golkar Sulsel, SYL mengontrol penuh para kepala daerah.

Hitungan di atas kertas, dengan pengendalian NH pada Bupati/Walikota yang kini mencapai setengah jumlah keseluruhan kepala daerah di Sulsel, maka cerita boleh jadi akan lain. Apalagi kemudian, incumbent sudah tak lagi ikut bertarung. Pun, secara geo politik pilihan NH pada Aziz adalah keputusan yang strategis. Terbukti, Aziz mampu menyatukan suara Luwu yang besar sementara NH diyakini mampu menyatukan suara di wilayah utara hingga tengah Sulsel.

Sinyalemen berpaketnya Nurdin Halid bersama Aziz Qahhar Mudzakkar disampaikan langsung Nurdin Halid, di Warkop Azzahra Jalan Bandang, Sabtu pekan lalu. NH secara terang-terangan menyebutkan niatnya untuk menggandeng Aziz di Pilgub. Bahkan dirinya mengaku telah merancang duet tersebut melalui lobi-lobi yang dilakukan sejak tahun lalu. NH mengaku, sudah tiga kali bertemu dengan Aziz untuk membicarakan keinginan bersama membangun Sulsel. “Jadi dari pertemuan tersebut, Insya Allah saya akan bersama Ustaz Aziz bersedia untuk membangun Sulsel baru melalui Pilgub 2018 nanti,” kata NH.

NH membeberkan, ia bersama Aziz akan mendeklarasikan diri pada bulan April mendatang dengan merujuk pada rekomendasi dari DPP Golkar dan dukungan dari DPD II Kabupaten/Kota di Sulsel, serta masyarakat umum. “Segera dideklarasikan. Deklarasi awal nanti pada 29 April, itu belum bersama uztaz Aziz, nanti kita susun jadwal deklarasi paketnya,” terang NH.

[NEXT-RASUL]

Sementara itu, Ketua Bappilu Golkar Sulsel, Kadir Halid mengungkapkan DPP Golkar akan lebih dulu menerbitkan Surat Keputusan (SK) NH sebagai calon gubernur (tanpa paket). “SK tersebut akan diterbitkan pada 22 April 2017 sebagai bentuk tindak lanjut atas rekomendasi dari seluruh DPD Partai Golkar se-Sulsel pada 18 Februari lalu,” tuturnya.

Sementara Aziz Qahhar Mudzakkar menegaskan menerima ajakan Nurdin Halid untuk bersama-sama membangun Sulsel dalam kompetisi Pilgub. Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara di Warkop Ogi, jalan Abdullah Daeng Sirua, kemarin. Menurutnya, komunikasi dengan NH telah dibangun cukup intensif dalam tiga pertemuan terakhir. Pertimbangan untuk kembali maju di Pilgub dan berpasangan dengan NH telah dilakukannya melalui pertimbangan yang cukup matang, termasuk meminta pandangan dari keluarga. “Kami sepakat untuk bareng di Pilgub, terkait deklarasi memang belum ada, nanti itu urusan pak Nurdin untuk mengatur teknis selanjutnya. intinya saya posisi dilamar, dan menerima lamaran itu,” ujarnya. (E)


div>