SABTU , 17 NOVEMBER 2018

WALHI Pamerkan Produk Kerajinan Rakyat Sulawesi

Reporter:

Editor:

dedi

Kamis , 22 Desember 2016 21:31
WALHI Pamerkan Produk Kerajinan Rakyat Sulawesi

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) region Sulawesi, yang terdiri WALHI Sulsel, WALHI Sulteng, WALHI Sulut, WALHI Sultra dan WALHI Sulbar menggelar festival wilayah kelola rakyat di Majene Sulbar, 21-22 Desember 2016.

Kegiatan ini berupa pameran produk-produk komunitas dampingan WALHI, model pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas. Tak hanya itu, ada pula panggung kesenian rakyat, demo masak kuliner lokal dari resep original komunitas serta lomba gambar tingkat sekolah.

Selain pameran, WALHI juga menggelar dialog publik dengan tema perlindungan wilayah kelola rakyat di Sulawesi  dengan pembicara direktur eksekutif nasional WALHI dan pemerintah daerah Sulawesi Barat.

Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Nur Hidayati menyatakan bahwa pola pembangunan yang dipraktekkan pemerintah selama ini cenderung exploitatif sehingga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup dan masyarakat.

“Pembangunan model exploitatif seperti pertambangan, perkebunan skala besar dan proyek infrastruktur lainnya telah banyak menimbulkan dampak bencana ekologis,” ujarnya, Kamis (22/12)

Terlebih lagi, WALHI mendukung model pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal. Untuk itu pihaknya berupaya mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap perlindungan wilayah-wilayah yang dikelola masyarakat dan menjamin perlindungan lingkungan atau ekosistem.

Sementara, direktur WALHI Sulbar, Iksan Welly mengatakan, bahwa festival wilayah kelola rakyat regional ini baru pertama kali dilaksanakan. WALHI menghadirkan puluhan komunitas dalam kegiatan pameran diantaranya hadir komunitas Salassae, komunitas desa Salenrang dan Untia dari Sulsel. komunitas desa Rano dari Sulteng, komunitas adat Allu, Mamasa, Tapango, Kabiraan dan Balanipa dari Sulbar.

Sementara, direktur WALHI Sulsel, Asmar Exwar menambahkan, event ini sebagai media kampanye dan promosi produk lokal, hasil kreasi komunitas dan mendorong kemandirian komunitas dalam mengelola potensi alamnya secara lestari.

“Pemerintah daerah diharapkan mendukung model-model kelola sumber daya alam yang dilakukan oleh komunitas secara lestari. Harus ada kebijakan negara yang pro WKR dan lingkungan hidup di Sulawesi,” demikian katanya. (Any)


div>