SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Warga Keluhkan Pelayanan Kepala Pustu Masago

Reporter:

Supahrin Tiro

Editor:

asharabdullah

Selasa , 20 Februari 2018 15:30
Warga Keluhkan Pelayanan Kepala Pustu Masago

int

TAKALAR, RAKYATSULSEL.COM- Warga Masago keluhkan pelayanan Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Lingkungan Masago, Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Pattallassang, KabupatenTakalar.

Salah satu warga, Daeng Ngagi mengatakan, bidan yang bertugas di Pustu Masago, Putry  membebankan kepada warga atau pasien yang datang berobat dengan nominal berpariasi. Ada yang membayar Rp10 ribu, ada juga yang membayar 15 rupiah tergantung obat yang di ingingkan dan penyakit yang diderita warga.

“setiap saya kesana (Pustu Masago) pasti membayar, kalau kita tidak membayar pasti bidan Putry bilang habiski obatnya”, ungkapnya, Selasa (20/2).

Yang gratis hanya tensi darah dan obat tiga biji, melebihi obat dari tiga biji pasti dibeli. Bedah sekali pak’waktu bidan Ogi yang bertugas di Pustu Masago, pasalnya kami warga merasa nyaman dengan pelayanannya dan semua obat Gratis.

“Dia juga bermasyarakat, apabila ada warga yang datang mencari di pustu pasti bidan Ogi mendatangi warga yang lagi sakit dirumahnya pak”, ucap Daeng Ngagi.

Menurutnya, percuma jika masyarakat memiliki Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan (BPJS) jika obat di Pustu itu tidak.

“Sehingga saya lebih memilih periksa di Puskesmas Pattallassang karena kalau di Puskesmas Pattallassang gratis dibandingkan sekarang di Pustu Masago,” jelasnya.

Kepala Puskemas Pattalassang, Kanang menegaskann apa yang dilakukan kepala Puskesmas Pembantu Masago itu tidak
dibenarkan.

Menurutnya, selama ada kartu BPJS masyarakat tidak bisa membayar obat-abatan. Warga harus diberikan pelayanan yang terbaik dan digratiskan. Persalinan saja itu tidak bisa dipunguti kepada warga selama mereka memiliki BPJS,” tuturnya.

Semntara itu, Bidan Pustu Masago, Putry, membenarkan,  warga yang datang di pustu lewat dari jam 2 sore itu membayar Rp 10 ribu, karena itu bukan lagi jam kantor

“Kita juga butuh istrahat pak. Makanya saya tulis di pintu, pelayanan hanya sampai jam 2 sore. Kecuali darurat, kita tetap layani mereka 24 jam dengan gratis apabila mereka memiliki BPJS,” tuturnya.

Mengenai soal obat yang dibeli di Pustu, lanjut Putry, itu faktor keterbatasan obat.

“Biasa memang ada warga sakit yang tidak ada disiapkan obatnya atau kehabisan stok di Pustu, sehingga saya berinisiatif menyiapkan obatnya yang saya beli di Apotik. Karena saya kasihan juga kepada warga kalau dia datang periksa baru obatnya tidak ada di pustu lalu saya berikan resep dan dia yang langsung beli di apotik,” jelasnya. (*)

div>