RABU , 20 JUNI 2018

Warga Maros Resah, TNI Turun Tangan Beli Murah Gabah Petani

Reporter:

Jumaedy

Editor:

Lukman

Selasa , 13 Maret 2018 18:04
Warga Maros Resah, TNI Turun Tangan Beli Murah Gabah Petani

Petani di Maros mulai panen padi.

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Pengusaha gabah lokal di Kabupaten Maros merasa resah dengan adanya keterlibatan TNI dalam melakukan pembelian gabah di masyarakat dengan harga yang rendah. Salah satu pengusaha lokal, Irwan mengatakan jika sudah empat malam ia dihadang oleh TNI saat hendak membawa gabah yang ia beli di masyarakat.

“Saya sudah empat malam dihadang oleh anggota Kodim, tapi saya perlihatkan surat resmi saya. Tapi tetap ditahan bahkan surat mobil juga diambil dan saya disuruh menghadap ke pak Dandim. Jadi saya ketemu pak Dandim, tidak ada juga kejelasan,” ujar Irwan, Selasa (13/03).

Selain Irwan, pengusaha lokal lainnya H Jama harus menjual gabahnya ke pihak TNI sebanyak 1 Ton dengan harga dibawah dari harga pembeliaannya di petani.

“Kami sudah beli dengan harga Rp 4.700 tapi di lokasi ada dari pihak TNI yang minta beli 1 ton dengan harga Rp4.500 itu saya kasi 1 ton. Kita kasi karena kita takut meski pun kita sudah tahu itu rugi Rp 200, tapi daripada gabah saya yang lain itu sekitar 10 ton harus ditahan dan bisa saja itu rusak. Dan saya dengar kalau di koramil itu dikasi jatah 60 ton minggu ini,” ujar H Jama.

Selain itu, seorang pengusaha gabah lainnya Muhammad Nur, juga menyetor sekitar 2 ton ke pihak TNI. “Saya juga disuruh stor 2 ton dengan harga Rp4.500 padahal itu kami beli Rp4.650, bapak saya yang langsung kasi karena takut,” ungkap Nur.

Ia melanjutkan jika ia bersama pengusaha gabah lainnya merasa resah karena pihak TNI mengharuskan pengusaha membeli gabah dengan harga rendah, sementara petani ingin jual dengan harga tinggi.

“Contoh kecilnya kita di Desa Alatengae, dengan rata-rata gabah 6 Ton/Ha dengan selisih harga sekitar Rp200 maka dengan luas lahan sekitar 600an Hektar maka akan ada selisih sekitar Rp 720 Juta, kalau di Kecamatan Bantimurung dengan luas lahan 3000-an Hektare maka akan ada selisih sekitar Rp3,6 M, kalau se Kabupaten Maros sekitar 26.000 Hektare itu ada diangka Rp 31 Miliar. Itu baru selisi Rp 200. Bayangkan berapa kerugian petani,” papar Nur yang juga merupakan Mahasiswa Agribisnis, Fapertahut, Univ UMMA Maros.

Sementara itu Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar Fajarianto, mengatakan jika petani tidak perlu heran jika ada anggota Kodim yang bertindak menghalau penjualan gabah dari petani ke tengkulak di lapangan. Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah di Maros dan daerah lainnya. Hal itu, dilakukan semata-mata agar gabah petani bisa diserap maksimal oleh Bulog.

“Semalam ada beberapa titik, anggota kami berhasil menghalau penjualan gabah petani oleh tengkulak yang akan dibawa ke Sidrap. Gabah itu kita arahkan ke mitra Bulog untuk dibeli. Mereka memang sengaja membeli gabah di malam hari,” ungkapnya.

Kita berupaya melakukan pemenuhan stok beras ini dilakukan dengan nama operasi Serapan Gabah Petani (Sergap). Melalui operasi ini, TNI turun langsung ke petani menghalau penjualan gabah dari petani ke para pedagang di luar mitra Bulog yang disinyalir akan ditimbun ataupun di ekspor keluar dengan cara ilegal.

Ia melanjutkan, jika petani tidak boleh terkecoh dengan harga tinggi yang ditawarkan oleh tengkulak. Pasalnya, banyak dari mereka yang memainkan bobot timbangan. Meski selisih harga bisa mencapai seribu rupiah dari harga resmi Bulog, namun kuantitasnya jelas lebih sedikit.

“Mereka (tengkulak) berani dengan harga tinggi dari harga normal Bulog Rp 4.400 itu. Tapi mereka memainkan timbangan. Meski nilai uangnya lebih banyak, tapi kan kuantitas beratnya sedikit. Yah sama saja. Itu cuma akal-akalan,” ungkap Mardi.

Selama ini kata dia, banyak tengkulak yang bermain di Maros. Mereka membeli gabah di sini, lalu membawanya ke daerah Sidrap untuk ditimbun ataupun dikirim keluar daerah bahkan luar negeri secara ilegal. Petani seharusnya berfikir, jika saat ini untung, mereka akan kembali merugi saat harga beras naik di pasaran.

“Tugas kami ini memang berdasarkan perintah Presiden melalu seluruh jajaran TNI Angkatan Darat. Logikanya, jika harga pangan tinggi tentu akan berdampak pada stabilitas keamanan negara yang menjadi tugas pokok kami,” sebutnya.

Untuk musim panen rendeng ini, Pemkab Maros sendiri menargetkan 11 ribu ton gabah atau setara dengan 8.800 ton beras dari petani. Target itu, optimis bisa dipenuhi lantaran tahun lalu bahkan melebihi dari 100 persen pencapaian. Sementara untuk serapan Bulog, tahun ini ditargetkan 6-7 ribu ton.

“Kita optimis bisa capai target produksi itu. Karena tahun lalu kita bisa lampauhi. Saat ini memang semua pihak, berkonsentrasi agar target serapan Bulog bisa dipenuhi. Kita heran produksi tinggi tapi malah kita serapan minim,” kata Kadis Pertanian Maros, Muhammad Nurdin. (*)


div>