MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Waspadai Badai saat Puncak Haji

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Selasa , 15 September 2015 02:46

JAKARTA,RAKYATSULSEL.COM – Para keluarga jamaah haji di tanah air disarankan untuk selalu mengingatkan sanak saudaranya di Tanah Suci untuk fokus mempersiapkan fisik dan mental menghadapi puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) yang tinggal beberapa hari lagi.

Pengamat masalah haji, M.Subarkah mengatakan, hal itu penting karena serangkaian ibadah di Armina itu cukup menguras energi dan perlu kesiapan mental, terlebih pascatragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram.

“Pada hari puncaknya itu, ada sekitar lima juta jamaah ada di situ, berjalan kaki semua. Ini perlu fisik yang kuat, terlebih di tengah cuaca yang tidak menentu. Para keluarga di tanah air harus selalu mengingatkan agar fokus ke hari puncak itu, tak perlu memikirkan apa penyebab tragedi crane, itu sudah ada yang menangani,” ujar Barkah kepada JPNN kemarin (14/9).

Keluarga di tanah air juga harus mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan. “Jangan makan yang dibeli di pinggir jalan, banyak debu, bisa sakit perut dan mengganggu ibadah,” saran Barkah.

Bukan untuk menakut-nakuti, Barkah mengatakan, Tim PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) dari Indonesia juga harus mewaspadai segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. “Di tengah cuaca yang tidak menentu, bisa saja tiba-tiba terjadi hujan lebat, badai. Padahal saat puncak ibadah haji itu, semua jamaah berada di tenda-tenda. Bagaimana jika badai disertai hujan es, ini yang harus diwaspadai,” ujar Barkah mengingatkan.

[NEXT-RASUL]

Barkah juga mengingatkan, bahwa jumlah jamaah yang tewas sebelum puncak haji di Armina, termasuk akibat tragedi crane, biasanya jauh lebh sedikit dibanding pada saat dan setelah puncak haji.

“Setelah puncak haji di Armina, jumlah jamaah asal Indonesia yang meninggal pada tahun-tahun sebelumnya rata-rata 10 hingga 20 orang per hari. Pokoknya bisa naik drastis hingga 90 persen dibanding sebelumnya puncak haji. Apalagi ini sekarang cuaca tidak menentu. Sekali lagi, ini perlu diwaspadai, khususnya kesiapan tenda-tendanya,” ulasnya lagi.

Dia menggambarkan suasana di hari-hari puncak ibadah haji di tahun-tahun sebelumnya. “Selama 24 jam, selalu terdengar suara sirine ambulance. Waktu di Armina itu sungguh berat, terutama bagi yang sudah tua. Sekali lagi, harus dipersiapkan dengan baik,” imbuhnya.

Peringatan dari Barkah tidak mengada-ngada. Pasalnya, sudah terlihat tanda-tanda ada masalah kesigapan PPIH.

Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat kemarin merilis ada 3 jenazah lagi yang berhasil diidentifikasi sebagai jamaah haji Indonesia, akibat tragedi crane. Jadi, hingga kemarin total 10 jamaah haji Indonesia meninggal akibat jatuhnya crane itu.

[NEXT-RASUL]

Ketiganya yakni Sriyana Marjosihono, No Paspor B1188078, asal Kloter 27 Embarkasi Solo (SOC 27); Masadi Saiman Tarimin No Paspor V222619 asal kloter 38 embarkasi Surabaya (SUB 38); dan Siti Rukayah Abdu Samad, No Paspor A2714350, asal kloter 39 embarkasi Surabaya (SUB 39).

Arsyad mengatakan ketiga jamaah yang wafat ini adalah temuan baru, bukan dari daftar jamaah yang terluka.

Nah, menurut Barkah, adanya temuan tiga jenazah di luar yang terluka itu menunjukkan adanya masalah.

“Ini aneh, apakah mereka (yang meninggal itu, red) sebelumnya diumpetin rombongannya? Harus ada penjelasan yang gamblang, kalau mereka tidak di rumah sakit, apa penyebab mereka meninggal, dimana ditemukan. Ini yang belum dijelaskan secara detil,” ujar Barkah.

Sebelumnya diberitakan, pada saat puncak haji, yaitu wukuf di Arafah, dan ibadah selanjutnya di Muzdalifah dan Mina, cuaca di Makkah diperkirakan masih panas. Bahkan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, berdasar prakiraan cuaca Saudi, pada saat puncak haji suhu udara bisa mencapai 50 derajat Celsius.

[NEXT-RASUL]

Karena itu, lanjut Lukman, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan menyewa tenda yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Semua karpet juga diganti dengan yang baru.

”Kami tambah water cooler dan ketersediaan air tiga kali lipat karena informasinya panas masih tinggi,” kata Lukman. (jpnn)


div>