SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Wong Solo Group Makin Kokoh di Tengah Krisis

Reporter:

Editor:

Nunu

Jumat , 30 Maret 2018 22:39
Wong Solo Group Makin Kokoh di Tengah Krisis

Outlet Wong Solo Makassar yang terletak di Jl. Sultan Alauddin, Makassar menjadi salah satu tempat favorit yang ramai diserbu pengunjung saat berakhir pekan.

RAKYATSULSEL.COM – Merek-merek waralaba di bawah naungan Wong Solo Group tidak mengenal yang namanya krisis. Mereka tetap kokoh dan terus menambah gerai di tengah lesunya ekonomi.

Ekonomi Indonesia tengah terpuruk saat ini akibat krisis global di Asia dan Eropa serta menurunnya daya beli. Akibatnya, banyak sektor bisnis yang tidak berkembang, bahkan beberapa perusuhaan memutuskan pekerjaan karyawannya. Begitupun di industri frachise. Beberapa perusahaan berhenti ekspansi, dan beberapa bisnis malah ada yang berhenti memfranchisekan bisnisnya karena terus mengalami kerugian.

Namun tidak demikian dengan Wong Solo Group. Perusahaan ini justru rajin membuka cabang bisnisnya di saat para pesaingnya tengah tiarap. Merek-merek waralaba di bawah naungan gurp ini tetap agresif membuka cabang bisnis franchisenya di berbagai daerah. Ayam Bakar Wong Solo misalnya, tahun ini menambah jumlah gerainya di Simpang Empat Banjarbaru, Polonia Medan, Balikpapan dan sebagainya. Sementara Ayam Penyet Surabaya sudah membuka gerai di Samarinda, Balik Papan, dan Makassar.
Tidak ketinggalan, Ayam KQ5 juga membuka gerainya di Batu Ceper, Serang, dan Jatiwaringin. Belum lagi Angkringan Jogja Jogokaryan dan Sambal Lalap yang mulai ekspansi ke wilayah Bogor. Juga tidak bisa diremehkan merek Iga Bakar Mas Giri yang selalu ramai dikunjungi customer. Hampir 200 gerai merek waralaba di bawah besutan Wong Solo Group ini. Merek-merek tersebut tampak stabil di tengah kelesuan ekonomi seperti sekarang ini. Merek restoran terus ramai dikunjungi pelanggan.

Wong Solo Group

Tidak bisa dipungkiri, kunci ketangguhan Wong Solo Group terletak pada pengalaman pemilik bisnisnya yang konsisten di jalur kuliner. Puspo Wardoyo selaku pemilik Wong Solo Group tidak pernah tegroda untuk membuka bisnis lain. Selama kurun waktu 24 tahun ia tekun mengembangkan Ayam Bakar Wong Solo hingga menjelma menjadi Wong Solo Group. “Saya tidak pernah membangun bisnis yang tidak ada kaitannya dengan bisnis kuliner. Karena bisnis kuliner ini harus konsisten jika ingin berhasil,” katanya.

Menurut Puspo, kegagalan para pemilik waralaba kuliner karena tergoda untuk membangun bisnis lain dan senang menjadi pembicara. Padahal, menurutnya, bisnis itu harus ditekuni benar karena di kuliner ini setiap saat selalu datang pesaing. “Jadi kalau diseriusi, akan ditinggal oleh pelanggannya. Makanya saya jarang sekali jadi pembicara meskipun banyak yang ngundang. Cuma sesekali saja jadi pembicara seperti di seminar internasional franchise kemarin di JCC Senayan. Selebihnya waktu saya lebih banyak mengontrol bisnis dan trial kualitas produk,” bebernya.

Selain itu, katanya, ketangguhan Wong Solo Group tak bisa dilepaskan dari manajemen mumpuni yang dimiliki Wong Solo Group. Wong Solo memiliki tim manajemen yang tugasnya bukan sekedar mengurus administrasi saja, tapi juga mengurus gerai franchise hingga berkinerja baik. Sebab mengurus usaha kuliner tidak bisa seperti bayi yang dipaksa lahir dan berjalan. Di jasa kuliner ini membutuhkan waktu, tidak bisa instan dan melakukan deal transaksi. Apalagi melalui social media atau dunia maya saja kontrol dan transaksinya. “Jadi harus turun di lapangan dan kerja keras,” tukasnya.

Gerai Sambal Lalap yang terletak di Jl. Peringtis Kemerdekaan, Makassar

Kedua, lanjut Puspo, tugas manajemen Wong Solo juga menyeleksi franchisee dan lokasi dengan ketat. Manajemen tidak terpancing untuk menerima tempat yang kurang strategis. Beberapa pemain franchise yang baru terjun di bisnis kuliner, kata dia, mudah sekali berpromosi dan menerima calon franchisee. Calon franchisee juga mudah tergoda karena ditawarkan peluang invetasi yang terjangkau dan cepat balik modal. “Seharusnya jadi franchisor harus sabar dan jangan mudah menerima hanya sekedar ingin cepat buka dan buka gerai di tempat yang kurang cocok untuk usaha kuliner,” bebernya.

Ketiga, manajemen Wong Solo memelihara dan memaksimalkan gerai franchisee yang sudah bergabung. “Kita tidak begitu nafsu membuka gerai banyak. Tapi pelahan-lahan namun pasti. Karena banyak franchisor yang agresif mengembangkan gerai baru, sementara gerai franchisee dilupakan. Sehingga kualitas produk, layanan serta omsetnya tidak maksimal karena jarang diperhatikan franchisornya,” ujarnya


Tag
div>