JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Yang Sakit Hati Yang Angkat Kaki

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Kamis , 08 Februari 2018 14:57
Yang Sakit Hati Yang Angkat Kaki

Dok. RakyatSulsel.

– Lima Elite NasDem Hengkang

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018, diwarnai dengan hengkangnya sejumlah elite partai. Selain Syamsu Rizal yang meninggalkan Demokrat, lima elite Partai NasDem juga memilih hengkang. Penyebabnya, sakit hati tak diusung di pilkada.

Mereka yang memilih meninggalkan Partai NasDem, yakni Wakil Ketua NasDem Sulsel Muh Yasin (Wakil Bupati Bantaeng), Ketua DPD NasDem Enrekang Amiruddin (Wakil Bupati Enrekang), dan Ketua DPD NasDem Wajo Andi Syahrir Kube (Wakil Bupati Wajo). Selain itu, ada Ketua NasDem Palopo Kapten Yorinus dan Ketua DPD NasDem Bantaeng Rusman Idris.

Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar, Syaifudin Jurdi, menilai, selain efek dari proses penentuan calon di pilkada serentak, mundurnya para elite NasDem tersebut merupakan akumulasi dari pertarungan internal partai dan intervensi pimpinan diatasnya.

“Itu akibat tak diusung di pilkada. Juga hak lain. Setidaknya, aspirasi atau otonomi pengurus daerah dalam mengusung calon dirampas oleh pimpinan diatasnya, khususnya DPP,” ujarnya, Rabu (7/2) kemarin.

Menurut Syarifuddin, dampak terburuk, partai akan mengalami defisit dukungan. Ketua dan elite berpengaruh partai yang hengkang tentulah berpengaruh bagi partai ke depan, apalagi ini menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg).

“Perpindahan kader sangat berdampak. Artinya, partai akan kehilangan kader potensial di daerah untuk menggalang basis massa,” terangnya.

Senada, Pakar Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Prianto, menilai, hal yang sangat wajar jika kader potensial meninggalkan partainya karena tak diusung di pilkada. Mengingat, harapan orang berpartai sangat pragmatis. Ada kepentingan yang ingin diwujudkan.

“Ketika jalan untuk mewujudkan kepentingan pragmatis itu mulai tertutup, maka meninggalkan partai adalah keniscayaan,” kata Luhur.

Momen pilkada yang dianggap sebagai akses meraih kekuasaan sudah tertutup, maka pilihan mundur menjadi sikap yang realistis. Dikatakan, sejak berakhirnya politik aliran atau politik ideologis, sekarang orang berpartai bebas datang dan pergi sesuka hatinya.

“Kalau kader yang pindah ada efek di partai, tapi tidak terlalu karena kader baru. Dampaknya pun saya kira belum terukur, karena mereka juga belum membuktikan kerja elektoralnya di partai,” pungkasnya.

Terpisah, NasDem melalui jubirnya, M Rajab, mengatakan, NasDem tak mempermasalahkan jika ada kader yang pindah ke partai lain. Untuk posisi Ketua NasDem Kabupaten Enrekang, pihaknya menunjuk Asman (bakal calon wakil bupati Enrekang) sebagai ketua DPD di daerah tersebut. Sementara Wajo dijabat oleh Andi Gusti Makaroda, dan Bantaeng dijabat oleh Na’ma Abbas.

“Kalau DPD NasDem Palopo belum ada pengunduran diri secara resmi. Jadi kami masih menunggu, tapi sudah siapkan pengganti,” jelas Rajab.

Khusus di Palopo, lanjut Rajab, Partai NasDem bergerak cepat menyikapi isu yang berkembang terkait rencana kepindahan Ketua DPD NasDem Kota Palopo, Kapten Yosenerius atau yang akrab disapa Bang Yos, yang dikabarkan memilih hengkang ke PKB. NasDem sebagai partai terbuka tidak ingin menghalang-halangi niat kadernya, jika ingin mengabdi pada parpol lain.

Menurutnya, langkah yang diambil Bang Yos sebagai hak pribadi yang bersangkutan. “Hak pribadi beliau untuk tetap bertahan atau memilih pindah partai. Kami di NasDem tidak ingin menghalangi-halangi sama sekali,” tegasnya.

Hanya, kata Rajab, Yos secara tertulis belum mengajukan permohonan pengunduran diri. Meski secara lisan, ia sudah pernah utarakan. Selanjutnya, NasDem akan menyeleksi sejumlah nama yang dipersiapkan untuk mencari pengganti Ketua NasDem Kota Palopo, yang masa tugasnya memang segera berakhir.

“Kami akan segera menyiapkan dan menyeleksi beberapa nama untuk mengisi posisi jabatan Ketua DPD, serta langkah antisipatif mengingat sejumlah agenda politik sudah menanti di depan mata. Seperti Pilkada, Pileg dan Pilpres 2019,” paparnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Enrekang Amiruddin, mengungkapkan kekecewaannya terhadap DPW NasDem Sulsel yang lebih memilih mengusung Muslimin Bando – Asman di Pilkada Enrekang. Padahal sebagai Ketua NasDem Enrekang, dirinya juga sudah mendeklarasikan diri untuk bertarung.

“Untuk apa urus partai kalau tidak saling menguntungkan,” kata Amiruddin.
Ia menegaskan, dirinya tidak ingin mengurus Partai NasDem lagi. Apalagi, jika harus mendukung Muslimin Bando – Asman yang telah pasti akan melawan kotak kosong. “Kalau kotak kosong lebih baik, kenapa tidak,” tegasnya.

Diketahui, pada pilkada lalu, Muslimin Bando berpasangan dengan Amiruddin. Setelah tidak ada kecocokan lagi, keduanya berpisah pada Pilkada 2018 ini.

Muslimin Bando kemudian memborong seluruh partai yang memiliki kursi di DPRD Enrekang. Amiruddin yang hanya mendapatkan surat tugas dari NasDem, tidak bisa mencukupkan koalisi. Hingga akhirnya, NasDem juga menyerahkan rekomendasi resminya kepada Muslimin Bando, yang juga berpasangan dengan politisi NasDem, Asman.

Selain para elite NasDem, Syamsu Rizal yang sebelumnya menjabat Sekretaris Demokrat Sulsel, juga memilih meninggalkan partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Saat ini, Deng Ical, sapaan akrabnya, bergabung di Partai Golkar.

Deng Ical memutuskan hengkang dari Demokrat, karena kecewa partainya lebih memilih mendukung petahana Moh Ramdhan “Danny” Pomanto – Indira Mulyasari Paramastuti. Padahal pasangan DIAmi ini bertarung di Pilwalkot Makassar melalui jalur independen.

“Saya hanya merasa tidak nyaman. Visinya sudah tidak lagi sama,” kata Deng Ical, saat dikonfirmasi perihal alasannya meninggalkan Demokrat. (*)


div>