Minggu, 20 Agustus 2017

Yuddy Chrisnandi Disebut Menteri KW-3

Jumat , 08 Januari 2016 19:26
Penulis :
Editor   : Azis Kuba

RAKYATSULSEL.COM – Kompetensi Yuddy Chrisnandi sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi bisa dikatakan buruk. Bukannya menunjukkan kinerja terbaik, dia justru merusak irama kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Begitu dikatakan pengamat kebijakan publik dari asal Universitas Padjajaran (Unpad), Yogi Suprayogi saat diskusi di Jakarta, Jumat (8/1).

“Karena sudah mengganggu dan buat gaduh itu, Yuddy sangat layak segera direshuffle,” kata dia.

‎Jika ditelusuri rekam jejaknya selama setahun lebih menjadi menteri di kabinet jajaran kerja, Yuddy lebih banyak melakukan kegaduhan. Padahal, tugasnya utamanya menyusun peraturan pemerintah dari UU ASN saja belum selesai.

“Ini malah mencari pekerjaan lain yang justru bukan pekerjaanya. Itu offside namanya,” tegas Yogi.

Sebagai pembantu presiden semestinya Yuddy menunjukkan kompetensinya dengan bekerja. Namun dia justru mempunyai agenda politik sendiri demi kepentingan pribadi.

“Ini kan bisa mengganggu kinerja pemerintahan. Terlebih Presiden tidak pernah meminta kepada dia (Yuddy) untuk memberikan penilaian terhadap menteri lain dan menyampaikannya kepada publik,” terang Yogi.

Atas dasar itu, Yuddy pun sangat terlihat mencari muka untuk menutupi kelemehannya yang terbukti tak mampu membuat reformasi birokrasi dengan baik.

“Apa yang dilakukan oleh Menteri PAN-RB menjadi blunder dan menunjukkan bahwa adanya aroma persaingan dan gesekan antar menteri di kabinet,” kata Yogi.

Di tempat yang sama, pengamat politik dari PolcoM Institute, Afdhal Makkuraga Putra menegaskan Yuddy tidak mampu menata sistem penerimaan CPNS dengan baik. Pada awal-awal menjadi menteri Yuddy mengaku akan membatasi jumlah PNS yang masuk karena alasan anggaran dan penerimaan PNS akan diprioritaskan untuk tenaga di bidang kesehatan dan pendidikan.

Tapi pada kenyataannya banyak tenaga kesehatan dan pendidikan yang tidak bisa diangkat menjadi PNS, padahal sudah bertahun-tahun mengabdi.

Di awal menjabat, Yuddy juga berusaha mencari sensasi dengan melarang adanya rapat di hotel-hotel. Namun itu hanya sensasi sesaat, karena terbukti sampai sekarang dia tidak pernah lagi berkoar soal itu.

“Jadi menteri KW3 yang disebut banyak pihak itu adalah bernama Yuddy,” tegas Afdhal.

Anehnya di Kementerian Yuddy ditempatkan di urutan ke tiga sebagai kementerian berkinerja baik. Kemudian di sisi lain menjatuhkan menteri-menteri berprestasi dengan menemnpatkannya di urutan bawah.

“Ini kan jelas sekali tidak objektif. Aneh bin ajaib ini. Bagaimana mungkin bisa mensurvei dirinya lebih baik dibandingkan dari yang laih. susah diterima,” demikian Afdhal.