SELASA , 14 AGUSTUS 2018

Yuk, Kenali Gejala Umum Autisme Pada Anak

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Selasa , 03 April 2018 14:15
Yuk, Kenali Gejala Umum Autisme Pada Anak

Ilustrasi anak penyandang autisme. Terapis nasional Benget Simanulung memberikan pelatihan kepada terapis PLA Surakarta. (Windywati/Radar Solo/Jawa Pos Grup)

Hari Peduli Autisme Dunia

RAKYATSULSEL.COM – Autisme pada anak memiliki banyak gejala umum yang diperlihatkan. Gejala tersebut biasanya terlihat pada anak yang usianya belum mencapai tiga tahun.

Pegiat Autisme yang kerap bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Rudy Sutadi mengatakan, sebagian kecil dari penyandang autisme sempat berkembang normal.

Namun, sebelum mencapai umur tiga tahun, perkembangannya terhenti. Kemudian timbul kemunduran secara bertahap.

Hari Peduli Autisme Dunia diperingati tiap 2 April. (dok. website KPPPA)

“Ada yang pada usia 18 bulan baru memperlihatkan gejala-gejala autisme,” kata Rudy dalam keterangannya, Selasa (2/4).

Menurut dia, pada usia 1 tahun, perkembangan motorik sebagian bayi mungkin normal, dan sebagian lainnya agak terlambat. Kemudian pada usia yang semakin besar, anak-anak autistik akan semakin terlihat terbelakang dibandingkan anak-anak seusianya.

Hal itu terlihat dalam kemampuan komunikasi, keterampilan sosial, dan pemahaman. Selain itu, timbul perilaku-perilaku disfungsional seperti stimulasi diri, yaitu perilaku yang berulang-ulang dan tanpa tujuan.

Misalnya, bergoyang-goyang ke depan-belakang, mengepak-ngepakkan tangannya, melukai diri sendiri contohnya dengan menggigiti tangan atau membentur-benturkan kepala.

Kemudian masalah tidur dan makan, kontak mata buruk, kebal terhadap rasa sakit, hiperaktif, dan tidak dapat memperhatikan suatu hal.

“Gejala-gejala autisme akan tampak makin jelas setelah anak mencapai usia tiga tahun,” paparnya.

Berikut gejala autisme yang tampak jelas setelah anak mencapai usia tiga tahun.

Pertama, gangguan komunikasi verbal maupun non-verbal seperti terlambat bicara, banyak meniru.

Kedua, gangguan dalam interaksi sosial, seperti tidak menengok jika dipanggil, menjauh jika diajak main dan justru asyik main sendiri.

Ketiga, gangguan dalam berperilaku. Pada anak autistik terlihat adanya perilaku yang berlebihan dan kekurangan secara motorik.

Keempat, gangguan dalam emosi seperti kurangnya rasa empati, tertawa sendiri, sering mengamuk.

Kelima, gangguan dalam persepsi sensoris, misalnya mencium atau menjilat benda apa saja, tidak menyukai rabaan, bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.

Selain itu, suatu ciri yang umum pada autisme yaitu kegigihannya terhadap hal yang sama secara terus-menerus yang jika berubah sedikit saja akan menyebabkan mereka bingung, bahkan mengamuk.

Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk memahami atau mengatasi situasi yang baru.

“Mungkin juga pernah melihat bahwa penyandang autistime kesulitan mengolah rangsangan, seperti menghindari segala bentuk kontak tubuh atau justru kebal terhadap rasa sakit,” ujar Rudy.

Dia menambahkan, sekitar 40 persen penyandang autisme tidak suka pada suara-suara atau frekuensi tertentu. Sehingga, seringkali mengalami ledakan emosi ketika mendengar suara tangisan bayi atau sepeda motor.

Sebaliknya, beberapa anak penyandang autisme seperti tampak tuli karena tidak merespons terhadap berbagai suara. Hal tersebut dikarenakan sebagian anak penyandang autisme mengalami gangguan terhadap satu atau beberapa inderanya.

Gangguan pada indera itu meliputi pendengaran, penglihatan, taktil (rabaan), pengecapan, keseimbangan, penciuman, dan vestibular (penginderaan pada otot, urat/tendon, sendi, dan organ keseimbangan, yang mendeteksi gerakan serta posisi tubuh dan anggota badan).

(put/JPC)


div>