SELASA , 16 OKTOBER 2018

Zonasi PPDB Tetap Diberlakukan

Reporter:

Armansyah

Editor:

asharabdullah

Rabu , 20 Juni 2018 10:59
Zonasi PPDB Tetap Diberlakukan

ilustrasi

*Disdik Jamin Tak Ada Dirugikan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sistem Zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tetap diberlakukan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar. Meski ada masyarakat yang menentang adanya sistem tersebut.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Hasbi mengatakan, pihaknya tetap akan melaksanakan sistem zonasi di penerimaan siswa di tahun ajaran baru ini, pasalnya sistem ini sudah diatur dan menunggu petunjuk teknis (Juknis) diumumkan.

“Silahkan saja ada yang tidak suka (sistem Zonasi) tapi kita akan tetap laksanakan, senin baru keluar juknisnya,” ucap Hasbi, Selasa (19/6)

Ia mengatakan bahwa sistem zonasi ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya berdasarkan dengan tes masuk tahun ini berdasarkan zonasi domisili.

“Semua sudah kita atur, tidak ada yang dirugikan, ada semua di Juknis,” cetus Hasbi

Ia menjelaskan sistem zonasi merupakan jalur masuk disetiap pendaftaran siswa baru dimasing-masing sekolah. Kouta yang disiapkan sebanyak 90 persen sistem zonasi dan 10 persen non zonasi.

“Non zonasi itu, 5 persen untuk siswa berprestasi dan 5 persennya lagi untuk siswa yang luar daerah. Sementara untuk zonasi memiliki syarat berupa jarak tertentu dan diberi bobot nilai dari sekolah, dan kita tunggu saja juknis hari senin,” beber Hasbi.

Selain itu, Kata Hasbi, Pihaknya belum menentukan jumlah atau kouta yang disiapkan masing-masing sekolah untuk menerima siswa baru. Pasalnya persiapan tersebut berteparan dengan libur lebaran.

“Kita belum tahu, kan libur setelah siswa terima lapor, insya allah minggu ini kita sudah terima laporan dari tiap sekolah,” ucap Hasbi.

Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah menetapkan sekolah hanya boleh membuka 11 rombongan belajar (rombel) atau 11 kelas di setiap sekolah dengan rincian per kelas hanya diisi 36 siswa.

“Yang jelas tidak boleh melebihi 11 rombel disetiap sekolah, biar ada 15 kelasnya, sekolah itu hanya boleh pakai 11 rombel, tiap rombel untuk SD 32 dan 36 untuk SMP,” jelas Hasbi

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri 6, Munir mengatakan bahwa pihaknya mendukung sistem zonasi. Meski begitu sistem baru tersebut memiliki dampak positif dan negatif bagi siswa.

“Sistem zonasi itu bagus, tapi semua pasti ada baik buruknya, baiknya itu tidak ada lagi alasan anak-anak kita tidak diterima dan buruknya itu membuat semangat belajar menurun karena mereka sudah yakin lulus,” ungkap Munir.

Selain itu, Lanjut Munir, Pihaknya belum mempersiapkan acara pendaftaran siswa baru. Pasalnya juknis dari Dinas Pendidikan belum keluar sehingga masih menunggu aturan tersebut.

“Kita belum ada persiapan, kan belum ada juknisnya,” singkat Munir

Ia mengatakan bahwa untuk SMP Negeri 6, kouta yang disiapkan mencapai 320 siswa untuk 10 kelas. Kouta ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Diketahui, sistem zonasi ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang PPDB disebutkan yang menjadi kriteria utama dalam penerimaan siswa baru, yakni jarak sesuai dengan ketentuan zonasi.

Untuk sekolah tingkat SMP, sistem zonasi mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah, nilai hasil ujian SD, dan prestasi bidang akademik yang diakui sekolah. (*)


div>